Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)

Sulur ilustrasi Genjek - Google.jpg
Sulur ilustrasi Genjek/Deviant Art 

 “Matilah dengan tenang. Jangan pernah menemui kami lagi. Hanyutlah dalam keberanian, kedamaian, dan kematian yang khusyuk,” kata Jatmika pada mayat sahabatnya.

Aku melihat dengan mataku sendiri ketika Jatmika melarung mayat sahabat baiknya. Dengan berbalut anyaman tikar, karib Jatmika yang juga kawan baikku itu perlahan terseret air sungai yang mengalir tak begitu deras. Riak kecil sungai itu menyeretnya semakin menjauh. Jatmika mengusap air matanya dengan lengan, lalu meraih ujung bajunya untuk menghapus air mata yang semakin deras. Aku tahu, ia begitu kehilangan sahabat baiknya. Ia merasakan kesedihan yang tak terperi. Sebenarnya aku juga dekat dengan Dwipa, tapi hubungan batin Jatmika dengan Dwipa mengalahkan kedekatan apa pun.

Kematian Dwipa memang tak pernah kami duga sebelumnya. Ia hanya korban dari menggeliatnya pemberontakan di pedalaman hutan yang sedang memanas. Sebelumnya, kami bertiga berencana memasuki hutan itu untuk menguraikan rasa penasaran kami terhadap mitos yang begitu santer kami dengar akhir-akhir ini. Kami bertiga ingin membuktikan kebenaran hal itu.

Kata orang-orang, di dalam hutan ini, pohon-pohon ditumbuhi sulur yang mematikan. Kata mereka, barang siapa yang berani mendekat atau menyentuh sulur pohon-pohon di dalam hutan akan terjerat sendiri dan hilang seketika. Mereka mengatakan jika sulur-sulur itu menyeret korbannya ke dalam pohon lantas melilit dan melumat tubuh-tubuh manusia. Kami bertiga, aku, Jatmika, dan Dwipa tak memercayainya. Terutama Dwipa, ia begitu keras dan ingin membuktikannya.

“Kebenaran adalah harga diri. Sementara kebohongan adalah kesia-siaan yang sengaja dibuat.” Begitulah kata Dwipa. Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya tentang sulur-sulur yang ramai dibicarakan. Keberanian Dwipa menyeret kami bertiga masuk ke dalam hutan.

Kami berangkat dengan keberanian. Aku meyakini benar bahwa sulur-sulur yang mencuri manusia itu tak benar adanya. Sebab, jika ditarik secara logis, mana mungkin ada pohon yang memakan manusia. Paling banter hanya lalat yang terpeleset di dalam bunga kantong semar. Untuk manusia yang dimakan pohon, aku meyakini hanya bualan semata. Kalau pun ada, bukan dimakan, melainkan sengaja dimasukkan ke dalam tubuh pohon serupa bayi yang dimakamkan di pohon Tarra yang dilakukan oleh orang-orang Toraja.

Advertisements