Cerpen Yaya Marjan (Media Indonesia, 12 Agustsu 2018)

Zikir Sunyi Perempuan yang Merindukan Kakbah ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Zikir Sunyi Perempuan yang Merindukan Kakbah ilustrasi Bayu Wicaksono/Media IndonesiaEnter a caption

SAYUP-SAYUP terdengar suara terompah dari barat laut. Terbawa angin dan perlahan mendekat ke tenggara. Merambat pelan, seolah tak mau mengganggu makhluk yang masih terlelap berselimut mimpi. Suaranya semakin dekat, berhenti di depan rumah. Tepat di balik pintu, suara terompah menghilang. Berganti suara derit pintu dari engsel berkarat tak berminyak. Menyelinap ke gendang telinga, melipir masuk dan menyanyat ulu hati. Pintu terbuka, Emak masuk rumah.

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumussalam…” jawabku.

Sosok perempuan mendekatiku. Wajahnya teduh. Tangan kanannya menenteng terompah. Rukuh putih yang sudah lusuh masih dikenakannya. Tangan kirinya memegangi bagian bawah agar tak menyentuh lantai. Sajadah hijau kesayangannya tersampir di pundak kiri. Aku berdiri menyambutnya. Membawakan terompah lalu mencium tangannya yang sudah mulai mengurat. Emak masuk kamar, aku menuju dapur.

Emak memandangi gambar kakbah berpigura sebelum masuk kamar, seperti saat itu. Tergantung di tembok dan ukurannya tak besar, 1 meter x 1,5 meter. Umurnya dua dekade. Oleh-oleh Bapak ketika pulang haji. Saat aku sedang memiguranya, Bapak berkata kepada Emak, suatu saat mereka berdua akan berangkat haji ke Mekah dan mencium Hajar Aswad, bersama. Bapak mengatakan itu sambil menunjuk kakbah. Emak masih mengingatnya meski sudah 7 tahun Bapak meninggal dunia. Kini, gambar kakbah dan terompah menjadi peninggalan Bapak yang begitu lekat di hati Emak.

Sepeninggal Bapak, Emak selalu memakai terompah ke masjid. Tidak lima waktu, hanya subuh. Seperti Bapak yang memakainya setiap jemaah salat subuh. Dan seperti Bapak pula Emak selalu mendawamkan zikir panjang di masjid usai subuh. Menunduk dan menengadahkan kedua telapak tangannya. Tak tahu apa yang Emak baca, panjang dan lama. Ketika jemaah lain pulang, Emak masih betah bersimpuh. Emak pulang ketika masjid sepi.

Aku selalu lungkrah melihat Emak memandangi gambar kakbah yang tergantung di tembok rumah. Kadang, Emak meneteskan air mata sambil menempelkan jari telunjuknya ke pigura. Sosok perempuan perkasa yang merawatku sendirian, mendadak kalah dengan benda mati itu. Sesekali Emak mengatakan, Bapak telah berada di Surga. Dan di pagi itu, Emak mengaku melihat Bapak menunggunya di Mekah.

Advertisements