Cerpen Junaidi Khab (Lampung Post, 12 Agustus 2018)

Sebuah Lukisan ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Sebuah Lukisan ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

KATANYA, lukisan memiliki makna yang mendalam. Penuh inspirasi. Dalam lukisan, ada kehidupan. Begitu kira-kira yang sering dipikirkan oleh Herlina sejak banyak orang membicarakan tentang lukisan. Baginya, lukisan tidak memiliki arti apa-apa, kecuali hanya sekadar hiburan saja. Bahkan dia sering menganggap aneh lukisan yang kata orang-orang sangat bermakna. Padahal, lukisan itu hanya oret-oretan tak karuan dari krayon atau cat.

Beberapa kali Herlina diperlihatkan sebuah lukisan oleh teman-temannya saat duduk ngopi di sebuah kafe yang menjadi langganannya. Tapi, sama sekali dia tampak biasa-biasa saja. Mungkin memang benar selera seseorang itu berbeda. Sangat subjektif. Lebih dari itu, kadang malah fanatik atas subjektivitas atas pendapatnya sendiri.

“Bagus juga sih,” kata Herlina suatu ketika saat dilihat sebuah lukisan oleh temannya.

“Ya, kamu seperti tak punya perasaan sama sekali,” ujar Dewi dengan manja. Bibirnya sedikit maju. “Atau jangan-jangan kamu membohongi perasaanmu sendiri.”

Herlina tertegun. Dia berusaha mengabaikan omongan sahabat karibnya. Tapi, pikirannya terus mencerna apa yang dikatakan oleh Dewi. Dia memang seperti berusaha membohongi dirinya sendiri. Entahlah. Herlina tetap diam, tanpa memberikan tanggapan lagi pada Dewi.

“Hei, Lin…” kata Dewi tiba-tiba menggantung. “Besok kita ke Kafe Sebal, yuk. Kafenya baru buka. Katanya lebih unik, menarik, dan inspiratif. Udah lah, kamu tak usah berbohong. Mantanmu juga bakalan balik. Dia sudah beristri.”

“Ah, kamu ini, Wik,” kata Herlina sok judes dan pahit muka. “Gak mungkin lah. Ayo, daerah mana tempatnya?”

Tak berapa lama, Dewi melihatkan sebuah peta di ponselnya. Herlina langsung memahami lokasi yang dimaksud. Tidak jauh dari kafe langganannya. Dari iklan yang dibaca, Kafe Sebal memang seperti menyuguhkan tempat dan situasi yang berbeda. Itu dirasakan oleh Herlina. Entah itu pengaruh iklan atau sekadar perasaan Herlina saja akibat persuasi Dewi.

“Baiklah, sudah tahu kan tempatnya?” tanya Dewi memastikan.

“Iya. Besok aku langsung mau menjemputmu.”

Advertisements