Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 12 Agustus 2018)

Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia ilustrasi Orta/Padang Ekspres

SAMPAH plastik jatuh di kepala Far yang tengah memandangi buku-buku. Perempuan 23 tahun itu seketika menengadahkan wajahnya ke arah langit sambil berpikir mungkin Tuhan sedang membagi-bagikan sesuatu—ia berharap sekantong roti paling enak—tapi yang ia lihat hanya tumpukan awan gelap.

Pagi tadi, Far sudah mengingatkan Ruin tentang cuaca buruk. Sudah seminggu ini langit selalu kelam, kadang disusul hujan, kadang hanya gerimis. Far bilang, terlalu berisiko kalau kita nekat. Ruin minta Far tetap datang ke rumahnya untuk menjemput buku-buku dan membuka lapak baca gratis di area gedung olahraga seperti yang biasa mereka lakukan di bulan-bulan lalu. Kalau hujan, tinggal angkat buku-bukunya dan cari tempat berlindung, kata Ruin. Far bisa memaklumi kekeraskepalaan Ruin. Sudah empat kali hari Minggu mereka tidak membuka lapak baca. Jangan kecewakan pembaca kita, kata Ruin mengacu pada orang-orang yang biasa singgah, memilih buku, dan duduk sembari membaca di sekitar taman tempat sekelompok lelaki bermain catur raksasa (dan karena itu mereka menyebutnya Taman Catur).

Sekarang mungkin hujan belum akan turun, tapi Far sedikit waswas memandangi langit yang makin menggelap. Ruin sudah pulang sejak tadi. Perempuan itu ada urusan mendadak. Tidak masalah tak ada Ruin. Far bisa melakukannya sendiri; menata buku-buku di tempat biasa mereka mangkal dan menunggu orang-orang datang dengan penuh kesabaran.

Akan tetapi, sudah dua jam Far menunggu, tak ada yang benar-benar singgah dan mengambil sebuah buku untuk dibaca. Beberapa orang yang melewati lapak baca itu hanya mengamati sampul, memperhatikan judul, kemudian segera tersedot ke dalam kerumunan klub pencinta binatang—orang-orang yang mengaku sahabat hewan liar dengan cara menjadikannya peliharaan. Far menghitung, ada sekitar tiga hingga empat klub pencinta binatang yang berkumpul, di antaranya klub pencinta sugar glider, pencinta ular, pencinta musang—dan, sepertinya, juga pencinta berang-berang. Masing-masing mereka memasang banner dan memakai pakaian seragam klub. Jika mereka datang pada hari Minggu, sudah dipastikan, lapak baca akan sepi sekali. Dan Far akan banyak bermenung. Tatapannya sering terpaku pada batang pohon atau sekelompok lumut atau semut. Far akan kembali terjaga bila sesuatu mengejutkannya, misal sampah plastik seperti yang tadi menimpa kepalanya atau lengkingan keras seorang anak kecil yang terlalu gembira menyaksikan tingkah kumpulan binatang.

Advertisements