Cerpen Alif Febriyantoro (Solo Pos, 12 Agustus 2018)

Lukisan Jembatan ilustrasi Solo Pos.jpg
Lukisan Jembatan ilustrasi Solo Pos 

Di rumah berdinding gelap, seorang lelaki tua duduk menghadap ke arah lukisan jembatan yang dipasang pada dinding ruang tengah. Hanya ada satu lukisan yang di sudut kanan atasnya terdapat warna merah menyala. Bentuknya seperti cipratan cat yang jatuh ke lantai. Namun lelaki tua itu tak tahu, dari mana warna itu muncul. Padahal, tujuh hari yang lalu, ketika ia membelinya dari seorang seniman yang kesepian, lukisan itu hanya memiliki dua warna, hitam dan putih.

Seorang gadis kecil menghampiri lelaki tua itu. “Itu lukisan jembatan ya, Kek?”

“Benar. Raina pintar.”

“Tapi kenapa Kakek selalu melihat lukisan itu setiap pagi?” Lelaki tua itu hanya tersenyum dengan keriput yang menghiasi pipi.

***

“Kelak, lukisan ini akan bercerita tentang kebenaran,” ucap seorang seniman yang kesepian kepada seorang lelaki tua yang tidak jelas asal usulnya.

“Ada-ada saja. Mana ada yang begituan!”

“Saya membelinya hanya untuk mengisi ruang kosong pada dinding rumah.” Lelaki tua itu memberikan selembar uang, “Sudah, kembaliannya diambil saja.”

Kemudian lelaki tua itu pergi, hilang begitu saja dari pandangan seniman yang kesepian. Tapi kemudian kuas melayang menuju kanvas. Mungkin seniman kesepian itu akan melukis kembali, sebuah lukisan tentang seorang tua yang kesepian…

Lelaki tua itu bernama Kelana, sebuah nama yang ia karang sendiri ketika ia terbangun dari ranjang rumah sakit dan tak ingat apa-apa. Ia lupa tentang semuanya. Tapi ia tidak lupa tentang bahasa. Mungkin, dulunya ia adalah seorang yang mengerti tentang tata bahasa, atau yang pandai merangkai kata-kata.

Sejak hari di mana ia lupa ingatan, ia keluar dari rumah sakit yang belum diketahui apa namanya. Ia tetap mengenakan pakaian milik rumah sakit. Tentu saja ia keluar secara diam-diam. Sebab ia tak memiliki apa-apa lagi. Ia berjalan menyusuri kota. Apa yang terjadi? begitu terus pikirnya. Tapi ia tetap melangkah. Orang-orang pun melihatnya heran.

Berhari-liari ia menjadi gelandangan di tengah kota yang menakjubkan. Bangunan- bangunan kota menjulang tinggi. Restoran-restoran megah bergaya klasik. Jalanan yang ramai. Namun ia hanya mampu menghuni gang kumuh yang mempunyai aroma-aroma busuk. Dan pada genangan air di gang itulah ia selalu melihat dirinya sendiri. “Bagaimana bisa aku terlihat tua seperti ini?” tanyanya berkali-kali.

Advertisements