Cerpen NF Rifana (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)

Kota-Kota di Ujung Jari ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka.jpg
Kota-Kota di Ujung Jari ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka 

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota-kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari satu per satu kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

Kota-kota itu tersembunyi di sebuah dunia yang tidak kutahu mana kaki langit, mana garis pantai, atau mana batas kota. Atau barangkali tak berbatas? Entahlah. Otakku yang cupet terlampau malas memikirkan perihal ini. Asal bisa singgah dan mendirikan rumah, beres. Aku tak ingin repot memikirkan barangkali di suatu tempat entah di mana ada pipa-pipa kotoran mengular atau kabel-kabel silang-sengkarut atau sistem-sistem yang tidak pernah mogok berkedip agar kehidupan di kota-kota ini tak berhenti berkelip. Entah, entahlah! Soal apa yang ada di balik kota-kota ini, janganlah lagi bertanya! Aku tak tahu jawabannya!

Oh, maaf, bukan bermaksud menghardik. Baiklah, sebagai permintaan maaf, kuberi tahu cara ke sana, ke kota-kota yang terlahir dari ujung jemari. Buat ke sana, satu hal mesti kau punya: kendaraan. Tentu kendaraan beserta bahan bakar, yang bukanlah bensin, solar, apalagi kayu bakar. Bahan bakarnya tak kasatmata, tak bisa kautimbang literan. Soal kendaraan tadi, ada yang menarik. Ukurannya cuma segenggaman tangan, tapi ajaib mampu memboyongmu ke kota-kota itu. Dulu kendaraan, yang konon cerdas, ke kota kebanyakan berukuran sekepalan, tetapi makin ke sini ada yang sebesar wajah, selebar koran pun ada. Harga beragam, tergantung pada isi sakumu bisa memuntahkan berapa lembar uang buat membawa satu pulang.

Naiki kendaraanmu sampai nanti bertemu persimpangan. Kadang simpang tiga, simpang empat, simpang lima, simpang sepuluh pun ada. Tergantung pada sudah berapa banyak kota dalam peta navigasi kendaraanmu. Nah, jika itu soal kota-kota yang bakal kuceritakan, maka turun dan menyeberanglah di persimpangan dengan rambu bergambar amplop. Tidak usah takut tersesat, sebab jika sudah kauikuti rambu itu, lampu di persimpangan lain akan padam. Jika jalanmu terang, sudah pasti itu arah yang kautuju. Kota pertama, kota pembuka buat memperoleh pass masuk ke kota-kota lain: Kota Kotak Pos.

Tapi sebelumnya kuwanti-wanti, bijak-bijaklah berlaku di sana bila tak ingin kehilangan jari. Sebenarnya ada banyak kota di ujung jemari, tapi kukisahkan tiga saja.

***

Advertisements