Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 12 Agustus 2018)

Hanya Anjing yang Boleh Kencing di Sini ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Hanya Anjing yang Boleh Kencing di Sini ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

RATMI membuka jendela kamarnya, pesing yang begitu pekat segera menyeruak ke lubang hidungnya. Membuatnya ingin muntah. Kurang ajar, para begundal itu pasti kencing di situ lagi, umpatnya dalam hati.

Semenjak pasar baru itu diresmikan tiga bulan lalu, setiap malam selalu saja ada orang-orang kurang kerjaan yang suka begadang di gardu pinggir pasar—hanya beberapa meter dari rumah Ratmi. Mereka bermain gitar, bermain kartu, atau mengobrolkan hal-hal yang menurut Ratmi tak penting. Mereka penggaduh yang tak tahu aturan. Tak jarang, tengah malam anak Ratmi yang masih bayi terbangun karena kaget mendengar ledakan tawa dari gardu di pinggir pasar itu. Ratmi atau tetangga lainnya tak ada yang berani menegur. Dan yang paling membuat Ratmi geram, mereka hobi sekali mengencingi pohon sawo di halaman sebelah rumah Ratmi. Pohon sawo yang menjadi pembatas antara rumah Ratmi dan area parkir pasar baru itu. Hingga aromanya menyebar sampai ke kamar.

Ratmi memang tak pernah melihat secara langsung orang-orang itu kencing di bawah pohon sawonya. Tapi, siapa lagi kalau bukan mereka? Anjing liar? Mereka itu anjing liarnya. Dan bau pesing itu agak aneh. Tidak seperti bau kencing orang normal. Baunya lebih busuk. Barangkali mereka terlalu banyak meneguk alkohol hingga air kencing mereka berbau seperti amonia. Tajam, busuk, dan seolah beracun.

“Orang-orang ini tak punya otak, kencing kok di halaman rumah orang. Tapi, pengelola pasar juga tak punya otak. Gara-gara toilet pasar digembok, mereka jadi kencing di halaman rumah orang. Mereka sama-sama tak punya otak,” ratusan kali Ratmi menyerapahi mereka. Hanya menyerapahi.

Baca juga: Laki-laki yang Kawin dengan Babi – Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 06 Mei 2018) 

“Laporkan saja ke Pak RT biar ditegur,” saran seorang tetangga. Tapi, itu sudah basi, Ratmi sudah melapor ke Pak RT sebanyak dua kali dalam tiga bulan terakhir. Kata Pak RT, mereka sudah ditegur. Mereka iya-iya, berjanji tak bikin gaduh. Ketika Pak RT bertanya perihal siapa yang kencing sembarangan di halaman rumah orang, mereka tak mengaku. Mereka bilang tak ada satu orang pun di antara mereka yang kencing di halaman rumah Ratmi. Hal itu membuat Ratmi semakin geram. Jelas-jelas bau pesing itu menusuk hidung. Dalam hati Ratmi berjanji, ia akan membuktikan bahwa para begundal kurang kerjaan itulah yang nyaris setiap malam menjadikan pohon sawonya sebagai kakus gratisan.

Advertisements