Cerpen Osella (Fajar, 12 Agustus 2018)

Gadis di Atas Pesawat ilustrasi Fajar.jpg

Mentari siang menusuk kota. Tampak butiran debu berjejer membentuk kipas di antara cahaya terik yang lurus. Kota Makassar sangat panas. Mungkin sama panasnya dengan kondisi menjelang pemilihan presiden. Para penikmat medsos berdebat tak berujung di jejari tanganku. Aku tidak kepanasan. Aku mengendarai mobil bersama beberapa orang. Kami hendak melihat secara langsung efek peristiwa gempa yang memakan korban ratusan orang itu. Tentu saja, kami pun akan memberi pertolongan terbaik. Aku bergabung dalam sebuah tim khusus.

“Banyak sekali orang!” ujar seorang anggota tim saat kami tiba di bandara.

Jauh hari sebelumnya, aku telah mendaftarkan namaku, dan memilih kursi dekat jendela berkaca di pesawat yang akan kami tumpangi. Karena aku tahu banyak tim penolong hendak ke sana.

Aku harus menikmati pemandangan selama perjalanan. Aku sangat menyukai alam yang asri, bahkan yang eksostis dan menghamparkan horor sekalipun. Bagiku alam adalah misteri. Alam selalu membuatku merenung. Habitat, ekosistem, lingkungan hidup, kehidupan di laut dan hutan atau apa pun istilah yang melekat padanya, aku menyukai perlindungan terhadapnya dilakukan secara simultan. Inilah kesempatan pertamaku melihat secara langsung surga Lombok, walau bukan yang terakhir. Mungkin.

Lombok, sebuah wilayah berhiaskan langit, lautan dan pantai yang indah. Aku bisa membayangkannya sekarang. Memandangi laut seperti menyelami kehidupan. Hanya embusan angin dan gelombang yang saling menyapa. Ombak besar dan kecil berjalan beriringan. Ada yang kuat menerjang. Ada yang lemah tak berdaya. Namun mereka satu tujuan, bibir pantai.

Aku merenung. Menyelami kehidupan manusia masa kini yang tergambar dalam jejari tanganku. Tapi sesuatu mengangetkanku. Bukan sesuatu, tetapi seseorang.

Wajah itu menggiring imajinasiku ke masa lalu. Aku, rasanya, pernah mengenalnya. Namanya? Aku lupa. Dasar pelupa. Padahal seharusnya aku tidak melupakannya. Mungkin Tuhan sengaja menghapus dia dari memoriku. Tetapi kenapa kini ia hadir di depanku? Mungkin mirip. Ah, tidak. Itu pasti orangnya. Gaya berpakaiannya pun masih sama yang dulu. Tetapi anehnya penampilannya belum berubah. Ia terlihat masih sangat muda. Seperti saat aku bertemu dengannya bersilam tahun yang lalu.

Advertisements