Cerpen Ranang Aji SP (Kompas, 12 Agustus 2018)

Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan ilustrasi Ampun Sutrisno - Kompas.jpg
Aku Tak Ingin Kacamata, Aku Hanya Ingin Mati, Tuhan ilustrasi Ampun Sutrisno/Kompas 

Menjelang usia ke-90, aku mulai merasakan kesepian yang sangat. Di dalam ruang jiwaku, kegelapan seolah menyelimuti hidupku yang pahit. Aku tak lagi mengetahui apa pun yang terjadi di dunia ini. Keadaan ini, membuatku merasa tidak bahagia lagi. Pohon-pohon yang bergoyang di halaman rumah, kuperhatikan selalu dengan irama yang sama. Di malam-malam yang sungsang, mata anjing sialan yang biasa di depan rumahku pun menyala merah dan menggonggong seakan tak mengenaliku. Padahal ia milik tetanggaku. Sungguh, aku bosan dengan kehidupan.

Setiap bangun tidur, tulangku yang kaku berderit bersama ranjangku yang usang. Otakku seolah lengket. Aku hanya mampu mengingat jarak antara desaku dengan desa tetangga. Jalan yang berdebu, pintu rumah yang terkelupas catnya, dan tahi kerbau yang bercecer di jalanan. Orang-orang seusiaku juga semakin langka. Mereka satu-satu mati dan digantikan oleh anak-anak muda yang asing dan tak bisa mengerti bahasaku. Aku pun tak mampu memahami mereka. Mereka banyak bicara hal-hal asing di dunia ini. Aku merasakan dunia ini seolah sudah terbalik. Kebahagiaan mereka bercerita tentang dunia yang tak aku pahami ini membuatku iri.

Anak-anak muda itu juga semakin tak menghormatiku. Mereka menganggap aku—orang tua ini, seperti kerbau dungu yang pantas mereka tertawakan. Sungguh, adab mereka tak lagi anak-anak muda di zamanku. Mereka juga hidup dengan dirinya sendiri. Meskipun aku lihat mereka berkumpul dengan mainan menyala di tangan.

***

Baca juga: Tiada Tuhan selain Keinginan – Cerpen Ranang Aji SP (Media Indonesia, 11 Februari 2018) 

Istriku, di masa lalu, adalah sosok perempuan manis yang mengetahui banyak hal. Terutama tentang orang-orang di pasar, tempatnya berjualan. Mereka membuatnya sering mengomel setelah menagih tak kunjung hasil. Ia juga banyak tahu nama-nama orang berikut jumlah utangnya, meskipun bukan berutang padanya. Ia suka sekali cerita tentang dunia luar sana yang katanya terlalu ribut. Jika aku merasa capek menanggapi—ia segera pergi ke rumah Jumiyem, tetangga sebelah yang mirip istriku, sembari membawa sedikit makanan agar ada alasan untuk tetap tinggal dan menggunjing orang-orang yang menggelisahkannya. Sepulang dari rumah Jumiyem, ia suka sekali bercerita tentang Kerto. Suami Jumiyem yang pakai kacamata dan membaca koran. Di sisi itu, harus kuakui, istriku adalah perempuan yang penuh perhatian. Kepadaku dan pada orang-orang di luar sana. Oleh sebab itu, ia jadi tahu banyak hal dan membuatnya hidup tak kesepian tanpa anak.

Advertisements