Cerpen Eni Kusuma (Radar Banyuwangi, 12 Agustus 2018)

Ada yang Mencuri Imajinasiku ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Ada yang Mencuri Imajinasiku ilustrasi Radar Banyuwangi

“ADA yang diam-diam mencuri imajinasiku, dan memberikannya pada perempuan lain.”

Inez tertawa mendengar penuturanku. Bahkan ketika aku menceritakan detail peristiwa itu.

“Mungkin selama ini kau memang keliru, En,” katanya.

***

Terus terang, aku sebenarnya heran juga bagaimana mungkin imajinasi seseorang bisa di-copy paste. Namun, ketika bertemu dengan perempuan itu, aku benar-benar takjub. Ternyata, imajinasinya sama persis dengan imajinasiku.

Kami bertemu dengan tidak sengaja di sebuah kafe di sore hari. Di saat aku meminum kopi pesananku, dia datang dengan senyuman. Bertanya, apakah dia boleh duduk di sana bersamaku. Aku membalas senyumannya.

Wajahnya yang ceria seolah-olah memberikan kesejukan di sekelilingnya. Caranya menatap membuat aku merasa nyaman dekat dengannya. Mengenakan atasan warna pastel dipadu dengan celana panjang jins biru muda, seperti orang yang sedang bergembira. Sepasang alisnya yang tipis terlihat seperti sayap burung yang bersuka cita. Rambut ikal panjangnya diikat ke belakang, sehingga leher putih jenjangnya terlihat sangat menawan. Satu hal yang merupakan ciri khas darinya adalah mata sipitnya. Ya, dia adalah seorang perempuan Tionghoa.

Aku menerka, usianya mungkin lebih tua beberapa tahun diriku. Tapi dilihat dari tubuhnya yang segar, membuatnya terlihat lebih muda. Ah, kegembiraan memang membuat seseorang terlihat awet muda.

“Duduklah, bila kau mau. Mungkin kita bisa berbincang. Lagi pula, meja ini cukup untuk kita berdua,” kataku mempersilakan.

Tangan kanan perempuan itu memegang punggung tanganku yang kutaruh di atas meja. Kemudian dengan suara pelan, dia berkata, “Aku memiliki sebuah imajinasi yang sangat fantastis.”

Sejak dia mengatakan itu, aku jadi penasaran. Aku segera menengadahkan wajahku, siap untuk mendengarkan lebih lanjut. Dia membetulkan duduknya dengan mengibaskan atasan yang ujungnya terduduki. Rupanya, dia tak sabar juga ingin menceritakannya padaku.

Advertisements