Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 11-12 Agustus 2018)

SANTA ZOMBIE Atau Perasaan dari yang Mati Disiksa ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa) ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

MESKIPUN mayat Marciena Vilanxa ditemukan di tempat itu, tapi mereka tidak membunuh di sana-mereka membunuh di tempat lain dan memindahkan mayat itu ke sana. Meski luka di selangkangan itu masih mengalirkan darah-dan kata beberapa orang, di sana itu selalu ditemukan genangan darah segar, serta: selalu hadir lagi darah segar meski itu telah lama dibersihkan dan berkali-kali diselenggarakan ritual doa dan pemberkatan. Terpikirkan, kenapa roh Marciena Vilanxa masih tertambat di tempat ia sekarat-bukan di tempat ia disiksa-masih ada di tempatnya mati dengan roh dipaksa membubung karena tak kuasa lagi menghayati tubuh didera sakit yang maha hebat?

Kekal tertambat di momen kala tubuhnya itu seperti yang tidak mau kehilangan roh, karena tak punya kuasa lagi memegang tali roh, bahkan tidak kuasa buat sekedar menahan roh di dalam tubuh meski, dan dengan lirih terus memanggili roh buat tetap menunggu-padahal tubuhnya sudah kejang, sudah terlalu banyak mengeluarkan darah. Karena itu, roh terus menghadirkan isyarat telau darah segar secara irasional, meski tubuh telah lama dikubur-seperti simbolikum Jesus yang disalibkan, yang sampai kini darahnya terus menetes, memberkati. Sekaligus, sepertinya, roh Marciena Vilanxa menuntut agar kami mencari tahu-meski itu mensyaratkan kami harus berani untuk mencari tahu, padahal kami terlalu takut dan tak cukup punya keberanian untuk mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kami ketakutan, dan cuma bisu membacakan Doa Pemberkatan-penebusan dan penawar bagi sakit disiksa.

MEREKA membunuh Marciena Vilanxa secara sungguh-sungguh. Rahang kiri pecah, meski hanya dua gigi yang tanggal dan tak pernah ditemukan, lidah tergigit, tangan kanan setengah keseleo yang terjadi mungkin karena dipelintir dan disengkelit ke belakang tubuh lantas diikat tak dalam proporsi yang benar, dua rusuk kanan patah menusuk ke paru-paru, dan kedua paha memar dengan ibu jari kaki kanan pecah. Semua itu-terutama luka di rusuk-pasti membuat setiap helaan nafas jadi siksaan tidak terhingga. Itu pasti penderitaan bernafas yang sangat menyakitkan dan lama, memicu derita di setiap helaan nafas serta getar tubuh-mungkin memacu peningkatan derajat pening seiring darah menetes tanpa ada tindakan menghentikan alirannya.

Advertisements