Cerpen Nanda Rista Noviati (Rakyat Sumbar, 11-12 Agustus 2018)

Bintang Semesta ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Bintang Semesta ilustrasi Rakyat Sumbar 

MALAM yang temaram itu masih setia ditemani bulan yang bersembunyi di balik mendung dan bintang-bintang yang bertebaran meski samar cahayanya. Di bawah langit itu masih setia seseorang yang enggan beranjak dari bangkunya, meski dinginnya malam menusuk sum-sum tulang. Gadis yang sama dan tatapan memujanya terhadap bintang yang masih sama. Lima belas tahun yang lalu, di tempat yang sama masih terdengar samar janji yang mereka ucapkan untuk selalu melihat bintang bersama-sama. Janji dua remaja berusia 13 tahun yang masih murni untuk diabaikan.

“Daniel kamu masih ingat kan janji kita?” Gadis itu mengirimkan sebuah pesan whatsapp dengan isi yang persis setiap tahunnya. Lagi-lagi dia berharap sekali saja agar pesan itu terbalas. Gadis itu hanya tersenyum lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia harus mengerti akan situasinya sekarang, mungkin Daniel masih menepati janjinya walaupun bukan di sini bersamanya, hiburnya dalam hati.

Alunan dan hentakan musik beat memenuhi setiap sudut kafe. Dengan ukuran yang cukup besar tv layar datar itu mampu menjadi pusat perhatian apalagi dengan suguhan acara paling terkenal yang sedang berlangsung sekarang.

“Hana, Daniel makin ganteng deh? Coba lihat setiap orang pasti akan mikir 1000 kali untuk melewatkan penampilannya. Ih aku meleleh banget lihat senyumnya…” celoteh Yura yang sedari tadi tatapannya tak lepas dari tv. Hana hanya tersenyum, Daniel memang sangat terkenal setelah debut pertamanya. Bukan hanya satu kampung bahkan satu negara pun sangat mengelu-elukannya. Meskipun semua terasa semakin berubah, Hana hanya berharap suatu hari nanti Daniel dapat menepati janjinya.

Di teras perpustakaan kampus, Hana duduk di bangku yang terletak di sudut teras sesekali ia memandang lepas lapangan yang berada di depannya. Entah mengapa meskipun Daniel tak pernah berkunjung ke kampusnya ia merasa Daniel berada di mana-mana. Ah rindunya kepada laki-laki itu semakin parah, Hana menghela nafas berat. Ia harus bertemu Daniel, tekadnya bulat. Sore di hari Sabtu itu, Hana menunggu di depan asrama tak lupa dengan renteng makanan yang berisi nasi uduk dan semur tahu bacem kesukaan Daniel.

“Selamat sore, Pak”, Hana membungkukkan badan menghormati orang yang ia temui.

Advertisements