Cerpen Amika An (Haluan, 11-12 Agustus 2018)

Ayah Ingin Aku Menari ilustrasi Istimewa.jpg
Ayah Ingin Aku Menari ilustrasi Istimewa 

Ada tanah yang tidak begitu luas di halaman belakang rumah kami. Petakan tanah itu bekas ditanami jagung. Daun-daun jagungnya masih berserakan. Ayah, yang kemudian merapikan, menjadikan tanah itu sebagai tempat menyenangkan, bagiku. Aku lalu sibuk memainkan piring plastik, meloncat, menari. Awalnya aku tidak begitu tertarik, tetapi karena selalu didorong oleh ayah melakukan semua permainan itu akhirnya aku suka. Ayah bilang anak perempuan harus punya keterampilan, apa pun itu, dan aku memilih untuk terampil menari. Keinginanku untuk bisa menari menjadi sama besar dengan keinginan ayahku, pada akhirnya.

“Yah, uang ayah sudah terkumpul?”

“Tinggal sedikit lagi,” balas ayah seraya mengulum senyum.

“Berapa kali mencangkul pasir lagi, yah?”

“Satu kali. Hari ini.”

“Ayah, kapan Puti dibelikan baju merah?”

“Nanti ya, Nak? Ayah akan usahakan mencangkul pasir lebih kuat dari biasanya. Ayah akan keluar tambang lebih dulu dari teman-teman ayah. Ayah juga akan pulang lebih cepat, membawakan Puti baju merah. Sekarang bantu ibu ke pasar dulu, ya?”

“Iya, yah,” aku lalu berlari.

Aku semakin bersemangat. Pulang dari tambang pasir nanti, ayah akan datang dengan baju merah yang begitu kuinginkan. Ayah akan segera berangkat mengeruk perut bukit. Dari puncak bukit itu lalu dipasang seng memanjang yang sudah dibentuk melengkung. Pasir yang digali dengan cangkul kemudian akan dialirkan melalui seng. Di bawah, ada truk yang sudah siap pula menampungnya. Kalau sedang ada rezeki, banyak truk yang masuk, banyak pula pasir yang bisa digali. Jika sedang tidak, ayah hanya pulang dengan kaki berkubang.

“Puti bawa ini ya?” ibu menyerahkan karung kecil berisi daun ubi kayu muda yang sudah diikat rapi. Daun ubi itu diambil dari ladang sekitar pukul lima subuh tadi, saat aku masih tidur. Ibu menjinjing dua karung yang sudah dibentuk menjadi serupa tas. Di dalamnya ada ubi jalar, jeruk nipis, japan, seledri, bawang prei, dan buah keladi. Nanti, semua itu akan ditukarkan dengan uangnya orang-orang baik, yang mau membeli. Daun ubi kayu muda, kupikul dengan kepala. Tangan kiriku memegang tangan ibu. Tangan kananku menjinjing tas kecil berisi nasi dan sebotol teh, masih panas.

***

Advertisements