Cerpen Zainul Muttaqin (Merapi, 10 Agustus 2018)

Pernikahan Malaikat ilustrasi Merapi
Pernikahan Malaikat ilustrasi Merapi

Perempuan itu termenung di pinggir jendela. Keningnya berkerut membentuk garis terombang-ambing. Ia sedang berpikir untuk mencari jawaban yang pas atas pertanyaan yang diajukan orang tuanya akhir-akhir ini. Berkali-kali ia mengatur laju napasnya. Pelan angin berembus memainkan rambutnya yang digerai sebahu. Tidak mudah bagi perempuan itu menjawab pertanyaan, “Kapan kamu akan menikah?”

Kepala perempuan itu bagai dihantam batu hingga hancur berkeping-keping, mengingat pertanyaan serupa juga dilontarkan oleh para tetangga, selalu setiap waktu, tidak pernah habis, diulang-ulang pertanyaan itu kepadanya, “Usiamu sudah matang. Lalu kapan kamu akan menikah?” Ia hanya menjawab pertanyaan itu dengan sebaris senyum.

Milka nama perempuan itu. Usianya sudah tiga puluh lima tahun pada bulan purnama mendatang. Wajar bila orang tuanya kerap mendesak agar anak perempuan satu-satunya itu segera menikah, terlebih perempuan-perempuan desa seusianya sudah menikah semua dan dikaruniai anak. Ia tetap berdiri di dekat jendela, memandang keluar pada baris pohon-pohon cemara yang ditingkahi angin.

Bukan berarti Milka tak pernah berhubungan dengan seorang lelaki apalagi dibilang tak punya gairah terhadap lelaki. Justru Milka sudah lima kali berpacaran, lima kali pula hubungan itu harus berakhir. Semuanya berakhir dengan pertengkaran yang sama persis. Lelaki terakhir yang pernah berhubungan dengan Milka sangat murka, tidak terima dengan cara Milka memperlakukan dirinya setiap kali berkencan.

Baca juga: Laki-laki yang Menjual Kelaminnya – Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 18 Maret 2018)

Potongan ingatan itu masih ada dalam tempurung kepala Milka. Suatu waktu dalam remang sore hari di sebuah kafe. Murad, lelaki terakhir yang berhubungan dengannya kerap dibuat meradang oleh Milka. Perempuan itu selalu membawa buku kemana ia pergi. Murad banyak bicara sejak tadi, perihal keinginannya melamar Milka sampai akhirnya bermimpi punya banyak anak. Ia sungguh bersemangat.

Lama Murad bicara, tetapi Milka tak memberikan respon apapun terhadap lelaki yang menyatakan cinta kepadanya tujuh bulan lalu itu. Milka mencurahkan perhatiannya pada buku Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan yang tengah dipegangnya. Karena saking seriusnya membaca novel itu membuat Milka tergagap-gagap bicara saat Murad memukul meja. Dua gelas jus alpukat jatuh ke lantai. Laki-laki itu memandang wajah Milka dengan rupa emosi.

Advertisements