Cerpen Ferry Fansuri (Rakyat Sultra, 06 Agustus 2018)

Preman Pamit Tobat ilustrasi Google.jpg
Preman Pamit Tobat ilustrasi Google 

Tangan itu sudah bersimbah darah saat Badrun mengangkat tangannya, ada gemerincing tak kasat mata di ujung tangan yang bergemetar itu. Parang yang selalu ia asah setajam silet itu menetes percikan bau anyir yang menyengat. Di depan tergeletak gumpalan jasad tak bernyawa, seorang wanita setengah baya dan anak perempuan. Badrun tak sengaja menebas mereka saat menyatroni rumah mewah di pinggir kampung ini. Badrun dikenal preman ganas yang tak segan-segan menyayat korban tanpa ampun jika melawan tapi dari itu semua Badrun ada kode etik sendiri. Dilarang melukai wanita dan anak-anak.

Malam itu Badrun melanggar sendiri aturan yang ia bikin sendiri, sebuah tugas sederhana dari Bos Patek tapi Badrun mengacaukannya.

“Kau hanya perlu cukil pintu dan ambil harta bendanya.”

Suara Patek terus terngingang-ngingang di gendang telinganya, tak sengaja Badrun kepergok dan tangannya semacam ada ledakan-ledakan neutron. Bergerak tersendiri tanpa diperintah dan membacok, urat leher menganga dan perut semburat tercerai berai.

Setelah kejadian itu, Badrun merasakan alam semesta menghakimi dirinya, tiap kali tidur dan bermimpi akan wajah wanita dan anak perempuan itu. Bayangannya menghantui diri setiap saat, mau bangun, makan sampai berak pun tak bisa ditepis. Badrun merasa tak bisa lagi melakukan pekerjaan seperti dulu, macam stroke menjalar pada sekujur tubuh dan membuat membusuk di pojok pasar dikerubungi lalat.

Baca juga: Tiga Plot antara Mei dan Imlek – Cerpen Ferry Fansuri (Analisa, 25 Februari 2018)

Ini yang membuat Bos Patek serta teman-temannya heran, preman sebengis Badrun tampak loyo dan layu meratapi nasib tak berdaya. Tubuh tinggi besar dan brewok bercabang di wajah Badrun begitu takuti saat melihat dia pertama kali tapi sekarang Badrun seperti pesakitan yang menunggu ajal.

***

Malam itu terasa beda, bintang-bintang tak banyak berkeliaran mungkin bersembunyi di balik awan gelap gulita. Sunyi berhembus di gubuk kontrakan Badrun, suara-suara jangkrik pun tak terdengar. Senyap menebah resah.

Badrun tampak berada hamparan savana yang maha luas, di tengah-tengahnya terdapat bangunan kecil terbuat dari kayu. Sekitarnya tampak asri dan sekali hembusan telah memenuhi paru-paru ini. Badrun masih tercengang dan terheran-heran dengan suasana dan bangunan kecil di depan pelupuk matanya, mulut terasa terkunci dan tubuh tertancap kaku tak bergeming sekejap pun.

Advertisements