Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 05 Agustus 2018)

Si Ompung ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Si Ompung ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

TERIMA KASIH, sayang.” Ujar lelaki bertubuh kekar itu.

Lelaki itu masih menggenggam tangan sang istri yang tertempel jarum infus. Sesekali dia mencium kening sang istri sambil melihat dokter bekerja dan melihat perawat membersihkan ranjang dari bercak darah. Sang istri melirik ke atas, memandang kebanggaan pada retina suaminya.

Di hari bersamaan, bukan hanya seorang, dia juga terlahir sebagai ayah, begitu juga pada sang istri—seorang ibu. Setelah dua tahun lamanya menanti kehadiran anak. Pagi ini, tangis bayi menggema kegembiran pada keluarganya.

Dokter dan perawat selesai membersihkan ranjang dan ruang. Sang bayi sudah bersih dari campuran darah dan ketuban. Tangisnya masih terngiang di telinga orangtuanya. Perawat membawanya ke ruang bayi dengan alasan memberikan susu. Sebab, air susu ibunya belum keluar.

Perawat lainnya mendorong ranjang sang istri, memindahkan ke ruang lain. Lelaki berkulit putih itu ikut mendorong ranjang sang istri, hingga mereka memasuki ruang persegi yang bersih dan rapi. Tidak ada hentinya hati lelaki itu bersorak gembira, setelah menunggu istrinya menahan sakit beberapa jam lalu.

Duduk di samping sang istri yang berbaring lemah. Menggenggam dan mencium tangan perempuan yang ada di hadapannya.

“Terima kasih, sayang. Bapak pasti senang mendengar berita, bahwa cucunya telah lahir, apalagi seorang lelaki.” Ujarnya pada sang istri.

Seketika perempuan itu menatapnya tajam. Semburat kebahagiaan sirna dengan kebencian. Biji mata perempuan itu hampir saja keluar, seolah ingin memangsa lelaki yang ada di hadapannya. Mata teduhnya tak lagi seramah saat selesai melahirkan.

Lelaki itu masih saja menyajikan senyuman kebahagiaan tidak terhingga. Apalagi yang bisa membahagiakan seseorang selain memiliki seorang anak. Terlebih lagi anak laki-laki. Ada sosok yang akan meneruskan darahnya.

“Bapak pasti senang, apalagi Emak. Ada penerus marga pada keluarga.” Tutur lelaki itu.

Kontan, perempuan itu semakin membisu dan melepas genggaman suaminya. Dia menoleh pandangannya. Seperti jijik melihat sang suami. Dia lebih baik melemparkan pandangannya ke jendela daripada menatap sang suami dengan cibiran kebanggaan keluarganya terhadap marga.

Advertisements