Cerpen Sulistiyo Suparno (Analisa, 05 Agustus 2018)

Purnama Terindah ilustrasi Toni Burhan -Analisa.jpg
Purnama Terindah ilustrasi Toni Burhan/Analisa 

PUKUL 06.30, Wina berdiri di pintu ruang kelas yang masih sepi. Tatapannya mengarah ke gerbang sekolah. Setiap hari Wina berangkat paling awal hanya untuk menanti cowok yang diam-diam dicintainya.

Wina membetulkan letak kacamata minusnya. Dadanya berdebar ketika melihat Rudi memasuki gerbang. Senyum Rudi tertangkap oleh mata Wina dari kejauhan. Rudi mempercepat langkahnya.

“Syukurlah kamu sudah datang, Win,” sapa Rudi, lega.

“Kamu nggak bikin PR lagi, Rud?” sahut Wina.

Rudi menyeringai. “Kan ada kamu, Win.”

Wina mengambil buku matematika dari laci mejanya lalu menyerahkannya kepada Rudi. Setelah itu Rudi menuju mejanya.

Ah! Wina kecewa dan tercenung. Biasanya Rudi mengerjakan PR di meja Wina. Itulah saat-saat yang dinantikan Wina, duduk berdua bersama Rudi. Wina selalu merasakan desiran lembut di hatinya bila berdekatan dengan Rudi. Tetapi sekarang? Ah, Wina benarbenar kecewa.

***

Wina membuka jendela kamarnya, memandang purnama di langit hitam. Angannya terbang bersama harapannya yang hampa. Mungkinkah dia bisa menikmati purnama bersama Rudi sang pujaan hati? Sampai kapan Wina harus memendam perasaan cintanya?

Wina tak mungkin mengungkapkan isi hatinya kepada Rudi. Wina terlalu malu untuk melakukannya. Kalau Wina menyatakan cinta terlebih dulu, apa nanti kata dunia? Tetapi, bersikap menunggu juga sangat menyiksa hatinya.

Wina menghela napas. Menatap lekat-lekat purnama yang telah bundar sempurna. Sebutir kristal bening meleleh di pipi putihnya. Sepasang bibir tipisnya bergetar saat menggumam, “Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Rud. Jangan biarkan aku menunggu begitu lama. Oh, Rudi.”

Wina menutup jendela kamar, bersiap untuk tidur. Oh, apakah cinta Wina pada Rudi hanya sebatas impian?

***

Advertisements