Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 05 Agustus 2018)

Petuah Parihin untuk Yulian ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Petuah Parihin untuk Yulian ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

DI benak Yulian, petuah orang tua adalah satu baris di bawah petuah Nabi. Dihisapnya bibir cangkir dengan bibirnya yang pucat, teh hangat itu membuatnya sedikit lebih lega. Meski batinnya linglung, seperti perahu kecil di tengah ganas ombak samudra. Parihin, Ibunya hari itu memberi petuah yang membuat tubuh Yulian getir panas dingin.

Parihin berkata, “Kelak, esok, Ibu berharap, kamu jadi gadis berguna. Memberi teduh pada sesama, menjaga laut agar seimbang.” Tubuh Yulian gemetar, diseruputnya lagi teh dalam cangkir. Ia diam, hanya menatap Parihin dengan hampa.

Dalam kebimbangan, Yulian terkenang pada Abah Abdullah, bapaknya. Abah Abdullah adalah seorang lelaki kurus yang separuh hidupnya dihabiskan di laut. Melaut saat senja tenggelam dan pulang saat sinar matahari muncul di ufuk. Saat kecil, Yulian setiap pagi akan duduk di pesisir pantai menunggu Abah Abdullah datang. Yulian bahagia jika melihat senyum Abahnya dari kejauhan. Abah Abdullah membawa ikan banyak. Ada ikan pari, ikan tongkol dan banyak macamnya. Para perempuan dewasa biasanya akan berkerumun menuju sampan yang baru saja menuju tepi. Mereka mencirok untuk menendak ikan berkilo-kilo. Ikan-ikan segar langsung dibawa ke pasar untuk jual.

Biasanya Abah Abdullah akan memeluk Yulian. Diusapnya keningnya berkali-kali. Dielus rambut anak semata wayangnya itu. Yulian dapat mencium aroma garam di setiap lekuk tubuh Abahnya. Aroma menyengat yang sangat ia sukai.

“Abah dapat ikan banyak ya?” Yulian berucap. Matanya melihat sekeliling. Ombak yang tenang. Air laut yang tampak biru. Burung-burung berkicau lembut. Para nelayan lain tampak sedang mengikat sampan di tepi.

Baca juga: Radio Bapak – Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 28 Januari 2018) 

“Alhamdulillah. Gusti Allah memberi tangkapan yang banyak,” Abah Abdullah tersenyum sembari menggendong Yulian. Membawanya mengelilingi pesisir pantai sebelum balik.

Biasanya Yulian di gendong sampai pada sebuah rumah panggung. Rumah panggung di mana mereka tinggal sudah puluhan tahun. Abah Abdullah akan tetap melaut, bahkan pada saat angin kencang, saat cuaca tak menentu. Parihin biasanya melepas kepergiannya dengan do’a dan wajah dipenuhi gulungan cemas.

Advertisements