Cerpen Ken Hanggara (Kompas, 05 Agustus 2018)

Mayat Masa Lalu ilustrasi Zulkifli Faiz - Kompas.jpg
Mayat Masa Lalu ilustrasi Zulkifli Faiz/Kompas

Seonggok mayat dirubung lalat di halamanku, persis di bawah pohon nangka. Jauh sebelum itu terjadi, berpuluh tahun lalu, pohon itu tempatku main petak umpet. Setelah agak dewasa, aku jadikan pohon itu sebagai tempat nongkrong bersama teman-temanku sesama pengangguran. Sesudah menikah, pohon itu tidak lagi kuperhatikan.

Aku tinggal di rumah peninggalan orangtuaku sejak bayi. Jadi hafal tiap sudutnya. Ketika seonggok mayat ditemukan di bawah pohon nangka tersebut, aku pikir seseorang sengaja membuat masalah.

Mayat itu tukang kebunku. Kardi namanya, yang mengaku bernama Sapono saat awal kami kenal kira-kira tujuh tahun silam. Lalu, kuketahui dia pernah menipu seseorang di suatu dusun di kaki gunung, dengan KTP palsu bernama Markoni, dan menyaru jadi guru SD. Dia mencabuli dua perempuan dan kabur membawa beberapa ekor sapi, dan mengganti nama menjadi Kardi.

Aku tidak ingin memenjarakan tukang kebun ini, karena dia begitu telaten merawat segalanya. Dia tidak marah walau kucaci-maki dengan kata-kata yang membawa nama para binatang. Aku suka kinerja dan caranya membereskan tetek bengek urusan kebun sekaligus membungkam mulut sendiri. Jadi, kuputuskan menyidangnya di ruanganku.

Waktu itu Kardi terpaksa mengganti nama menjadi Sapono karena takut ditembak oleh orang-orang yang dulu membantai keluarganya. Orang-orang itu, begitu menurut si Kardi, adalah orang-orang paling bengis sepanjang hidupnya.

Baca juga: Maria dan Toko Baju – Cerpen Ken Hanggara (Koran Tempo, 04-05 Agustus 2018)

“Ibu saya lagi bunting,” katanya menjelaskan, dengan napas patah-patah. “Dikejar di kebun-kebun, sampai masuk hutan. Waktu itu saya nangis, dan Ibu nyuruh saya diam. Kata Ibu, ‘Kalau berisik terus kuberikan kamu ke hantu-hantu.’ Setelah itu saya berhenti nangis, karena dengar dari kakek bahwa hantu-hantu hutan suka makan gigi anak kecil. Saya tidak ingin ompong seperti kakek, maka saya diam. Tapi akhirnya Ibu tertangkap. Saya lolos karena Ibu memasukkan saya tepat waktu ke lubang di sebatang pohon, dan menyuruh saya menggigit sebongkah kayu. Kayu itu rasanya pahit, tapi saya gigit saja dan saya tidak rewel, daripada ompong. Lalu saya mengintip dan melihat Ibu diikat, dan saya tahu perutnya masih besar karena adik saya belum keluar. Tetapi pada saat itu juga Ibu disembelih.”

Advertisements