Cerpen Muhamad Wildan Kemal (Pikiran Rakyat, 05 Agustus 2018)

Tulus ilustrasi Zasika Hayatul Kamilah - Pikiran Rakyat.jpg
Tulus ilustrasi Zasika Hayatul Kamilah/Pikiran Rakyat 

MASIH terngiang dengan jelas di telingaku tentang dongeng kakek dahulu, sewaktu aku hendak tidur dan berangkat sekolah. Dongeng itu selalu diucapkan kakek dan aku selalu antusias mendengarnya. Katanya ini semua adalah milik kita, kepunyaan kita, warisan dari zaman kakek dan peninggalan keramat dari para leluhur untuk zaman kamu dan cucu kakek di masa depan.

KAU di sana ketika malam yang dihujani bintang kian menderang, menetesi air mata dari lubuk hati dan mengalir dalam luka yang kau alami pada masa lalu yang masih menjadi misteri besar untukku. Kau di sana dengan senyuman dan air mata.

Hari indah di awal tahun pelajaran baru dengan ruang baru dan orang-orang baru yang sebenarnya tidak kupedulikan. Aku hadir sebagai siswa SMA di Tangerang yang dipenuhi pabrik-pabrik besar, namun mendapat gelar Adipura Nasional. Namun, di sini aku tersiksa oleh dunia.

Ketika tiba saatnya bel berteriak memerintahkan kami semua untuk masuk kelas dengan sangat nyaringnya sampai membuat telinga sakit mendengarnya, hampir 15 menit kami menunggu guru membosankan yang baru juga, hingga ia pun datang dengan agenda dan jurnal yang dipeganginya.

“Baik, anak-anak. Di sini saya tidak akan langsung mulai belajar, kita hanya akan perkenalan saja,” ucapnya. “Nama saya Bima Setiawan, kalian bisa memanggil saya Pak Bima,” ujarnya melanjutkan.

“Pagi, Pak Bima!” serentak murid-murid membosankan yang lainnya.

Aku hanya duduk memandang keluar jendela yang dihuni oleh awan putih yang saling bergelantungan di langit

“Yudha Lesmana!” panggil Pak Bima yang menyadarkan diriku dari imajinasiku. “Sekarang kamu, silakan dan memperkenalkan dirimu ke teman-temanmu yang lain.”

“Baik, Pak.”

Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan dengan santai menuju malas.

“Kenalin, nama saya Yudha Lesmana, dari Tanah Tinggi,” ujarku.

Beberapa anak perempuan terlihat saling berbisik, entah apa yang mereka bisikan aku sungguh tidak peduli.

Advertisements