Cerpen Deasy Tirayoh (Media Indonesia, 05 Agustus 2018)

Hujan Belum Turun di Teluk Kao ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Hujan Belum Turun di Teluk Kao ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

APABILA 50 tahun lagi aku menderita demensia sehingga lupa mengutuk kekuasaan yang begitu jahat, lewat politik adu dombanya, telah memprovokasi dengan embel-embel ‘Atas Nama’ untuk menghancurkan rumah, tempat bermain, sekolah, persahabatan, dan mimpi masa kecilku, maka tolong, ingatkan aku!

***

Tatiana. Halmahera, 2017.

Tom, dari pelayaran di Bitung, 18 tahun silam, tiada ketenangan layaknya malam ini. Sebab segalanya menjelma kecamuk, termasuk ingatan. Perjalanan serupa pernah membawa keluargaku melayari lautan, melewati malam yang dingin bersama pengungsi lain, lari meninggalkan kerabat dan harta yang diberangus perang. Kakakku terkena panah  tepat di rusuknya, sebelum ia berhasil masuk ke gereja dan kehabisan napas di pelukan Papa. Sementara Mama, sejak kejadian itu, ia jadi tekun menghabiskan murung di dekat jendela, meratap-ratap hingga luka kehilangan anak sulungnya, dibasuh oleh ajal, setahun setelahnya.

Kini, usai trauma dipulihkan waktu, aku datang menemui pundakmu yang cengkeh dan bibirmu yang garam, kendati aku tak tahu seperti apa rupamu sekarang. Sengaja kutumpangi kapal menuju Halmahera, untuk menghanyutkan kenangan perih itu, untuk merasai bermil jarak penuh ombak yang meliukkan nyanyian masa kecil kita meniru siul nelayan Teluk Kao. Untuk merasai deru di jendela, yang menerpa pipiku seperti kibasan daun-daun di pohon jambu yang kerap kita panjat sepulang sekolah, tempat kita kerap bertukar cerita, sebelum tragedi itu.

Adakah kau telah memiliki kekasih? Bukankah tak ada perempuan yang sanggup mencintai cerita-ceritamu, melebihi aku? Dari jauh, kulihat lelampu berkerlipan, apakah satu diantaranya adalah cahaya jendelamu yang terbuka menyambutku?

Kuingat malam Idul Fitri 1998, aku ke rumahmu yang terang, membawa sebuah kartu ucapan yang kuhiasi gambar Batman, lalu kau berjanji akan memberiku kartu bergambar Winnie The Pooh, kelak di malam Natal. Namun, rupanya Natal justru datang dengan kisah pilu. Situasi tiba-tiba gawat di ujung Desember. Kerusuhan pun pecah. Kita benci situasi perang dan segala alasannya.

Advertisements