Cerpen Rumasi Pasaribu (Banjarmasin Post, 05 Agustus 2018)

Di Bawah Pohon Mahoni  ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Di Bawah Pohon Mahoni ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group 

Duduk di bawah pohon mahoni adalah nikmat yang tak berkesudahan bagiku. Di bawah pohon mahoni yang tumbuh di tepian taman bangunan megah berwarna putih ini, aku dapat menghirup angin laut yang berasal dari seberang bukit. Duduk di bawah pohon mahoni ini, aku dapat melihat pucuk cemara laut nan rimbun bergerak-gerak mengikuti tarian angin.

Dulu semasa kecil, aku suka memainkan daun-daunnya yang serupa lidi, mematahkan salah satu ruasnya yang seperti ruas tebu. Lalu, sungguh-sungguh menyambungnya kembali seakan ruasnya tak pernah patah. Setelah itu, kuminta teman- teman menebak ruas mana yang sebenarnya telah patah. Ada kegembiraan yang membuncah saat mereka salah menebak.

Itu dulu, saat aku masih mengenal rumah tua semasa anak-anak. Aku tinggal tak jauh dari pantai bersama ibu (tukang pembuat ikan asin) dan ayah (pelaut) yang tak pernah pulang sejak memutuskan tinggal di pulau seberang. Agaknya laut adalah takdirku. Sejak kecil bahkan hingga usia hampir senja ini aku masih tak jauh-jauh dari bau laut meski bukan laut yang sama.

Aku masih sibuk memandang hijau pucuk cemara saat kulihat lelaki paruh baya itu datang sambil membawa sapu dan sekop sampah. Lalu ia mulai membersihkan daun-daun mahoni yang jatuh berguguran. Entah kenapa, sejak ia ada di sini, aku selalu memperhatikannya.

Aku tak tahu ia melihatku atau tidak. Aku juga tak tahu apakah ia merasa kuperhatikan ketika tiap sore ia menyapu di taman. Yang kutahu, ia tampak lelah dan menderita. Namun ketabahan begitu tertancap dan memancar dari sudut matanya.

Semula aku merasa kehadiran orang baru itu bukan kehadiran yang biasa. Sebab ia tampak sehat dan tentunya waras. Awalnya, ia hanya duduk selonjoran di teras sebuah bangunan di lembah sepanjang waktu. Berdiam dalam sunyinya, sepertiku. Tapi, beberapa hari ini kulihat ia mulai menempati salah satu kamar kecil di sudut sebuah gedung. Sama sepertiku.

Baca juga: Bunting – Cerpen Lailatul Badriyah (Banjarmasin Post, 29 Juli 2018)

Aku masih sibuk memperhatikannya ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan dari gedung di lembah. Keras dan melengking. Lelaki pembersih taman itu bergegas berlari ke lembah. Ia seperti hafal dengan teriakan yang baru saja menggelegar. Selalu, lengkingan seperti itu membuatnya terburu-huru berlari, meninggalkan sapu dan sekop sampah. Setelah suara itu reda, ia datang lagi ke taman melanjutkan pekerjaan atau memlilh duduk di batu di tepi taman yang lain. Lalu, menyeka air matanya dengan lengan baju kaus yang ia kenakan.

Advertisements