Cerpen Kartika Catur Pelita (Haluan, 05 Agustus 2018)

Darah Daging ilustrasi Haluan.jpg
Darah Daging ilustrasi Haluan 

“Kaupikir apa yang akan dilakukan orang-orang itu kalau tahu keadaanmu? Mereka akan menolongmu? Jangan ngimpi! Begitu orang kampung tahu aib apa yang kauperbuat, mereka akan mengusirmu. Bahkan tak segan membunuhmu! Membakarmu hidup-hidup!”

Lelaki gusar mendenguskan ancaman. Perempuan ranum masuk kamar tidur. Dan lagi-lagi air mata meluncur.

Huh…menangis lagi! Mengapa dia tak berbagi cerita pada orang lain, masalah terasa lebih ringan. Huh, aku menjejak kaki, agak keras. Perempuan giris menghentikan tangis, kesakitan meringis.

“Jangan menendangku, bayi tolol! Kaupikir karena siapa aku jadi begini? Semua ini karenamu!”

Lho…mengapa tiba-tiba menyalahkanku? Apa salahku?

***

Lelaki kasar pulang ke rumah. Tak membawa ‘lelaki belian’, ia malah memuntahkan marah. “Kakekane! Uang hasil jual tanah dirampok orang. Jangankan lelaki gembel bisa aku beli, untuk pulang saja aku nunut truk sapi! Kere!”

Bulan berjalan. Aku terus tumbuh. Lelaki sangar masih marah-marah. Si perempuan resah tiada hari tanpa mata basah.

Aku merasa bosan!

Aku tiba-tiba ingin segera keluar dari gua garba. Ingin tahu bagaimana keadaan alam fana. Ingin mengerti siapa yang telah mengukir jiwa ragaku.

Baca juga: Tikus Raskin – Cerpen Kartika Catur Pelita (Fajar, 29 Juli 2018) 

Aku…aku ingin melihat ia yang selalu menangis. Keinginan semakin membuncah. Aku bergerak ke sana ke mari, mencari jalan. Aku menggerakkan tubuh lebih keras. Sekarang perempuan mulas berbaring di dipan menahan kesakitan. Digigitnya bantal agar jerit teredam.

Dia benar-benar menahan sakit. Teramat sangat. Dipijit kuat perut, sehingga aku ikut merasa kesakitan! Aku semakin bergerak untuk mencari jalan keluar…

Perempuan kanak mulai mengejan! Keringat bercucuran!

Aku telah menemukan jalan keluar! Sebentar lagi… Mengejan lagi. Keras! Keras! Lebih keras lagi!

Akhirnya, akhirnya aku keluar! Aku telah lahir dengan selamat!

Advertisements