Cerpen Muna Masyari (Jawa Pos, 05 Agustus 2018)

Bulan Berdarah ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Bulan Berdarah ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

RIUH bunyi kentongan di bawah sana membuat kecemasan di dadamu kian membelukar. Sambil memungut tembikar di bawah pancuran, doa-doa keselamatan tak henti kaurapal. Sebentar-sebentar kau mengangkat wajah, menatap purnama yang perlahan menghitam kemerahan.

Bulan gerring [1] mengundang petaka. Menabur bala. Malam kebangkitan Bhuta. Demikian yang dikatakan ibumu dulu, ketika purnama mulai terpagut gerhana, sambil menyiapkan gula merah dan daging kelapa. Sementara ayahmu ikut berkeliling kampung memukul kentongan bersama para tetangga.

Saat itu kau masih kecil dan baru mendengar istilah bulan gerring. Pun, awalnya kau belum tahu ada makhluk menyeramkan bangkit dari kegelapan, merampas janin, dan ketenangan segenap warga ketika malam purnama menggulita.

“Bhuta seperti apa, Bu? Apa wajahnya menakutkan?” tanyamu penasaran.

“Tentu saja. Tubuhnya tinggi-besar dan hitam. Wajahnya menyeramkan!”

“Ibu pernah melihatnya?”

“Kata nenekmu!”

“Bagaimana caranya ia bisa mengambil bayi dalam perut? Apa perutnya dibelah?” ngeri kau membayangkannya.

“Tidak! Ia memiliki tangan gaib. Perut si ibu tiba-tiba mengempes begitu saja pada hari-hari berikutnya. Ketika diperiksakan, sudah tidak ada bayi lagi di dalam. Makanya, bagi orang hamil, ketika bulan gerring disuruh melempar tembikar ke genting, lalu bersembunyi di kolong ranjang sambil menggigit pisau agar bayi dalam kandungannya selamat dari tangan Bhuta.”

Baca juga: Pemesan Batik – Cerpen Muna Masyari (Kompas, 28 Januari 2018) 

“Lalu, untuk apa orang-orang memukul kentongan?”

“Sebagai tanda kalau mereka masih terjaga, agar Bhuta tidak merajalela.”

“Kenapa kita tidak ikut?”

“Kita bertugas membangunkan pohon-pohon di sekitar rumah, lalu menyiapkan gula-kelapa.”

“Apa gula-kelapa itu untuk mengusir Bhuta juga?”

“Untuk menangkal penyakit akibat kehadirannya. Dimakan bersama setelah purnama kembali ke sediakala.”

Advertisements