Cerpen Andi Makkasau (Fajar, 05 Agustus 2018)

Addatuatta Matinroe ri Salemo ilustrasi Fajar
Addatuatta Matinroe ri Salemo ilustrasi Fajar 

11 Februari 1681

Matahari pucat di balik awan tipis sudah tergelincir agak dua depa di sisi barat benteng ketika dari utara sebuah baqgo menurunkan layarnya. Layar berbahan anyaman daun palem itu tidak digulung, tali penarik pun masih terjulur begitu saja dari ujung tiang berkaki tiga. Lunas perahu Mandar itu baru saja menyentuh pantai ketika orang pertama dengan sigap melompat turun dari sisi kiri haluan. Ini kali pertama ia menginjak pulau ini. Umurnya masih tiga puluhan, pada wajahnya tergurat keteguhan hati.

Berikutnya seorang laki-laki paruh baya dengan tenang menyusul turun. Bukan kali pertama ia ke pulau ini. Awak perahu yang sedari tadi bersiap segera mendorong perahu kembali ke laut kemudian dengan cepat melompat kembali ke atas perahu dan mulai mendayung menjauh. Sejenak laki-laki paruh baya itu berdiri mengeratkan ikat kepalanya, tingkah awak perahu barusan mengundang firasat.

Tembok benteng kecil persegi itu tersusun dari batu karang tanpa plester, tingginya lebih dari jangkauan tangan orang dewasa. Sisi bagian atas tembok dan permukaan atasnya ditumbuhi kaktus berduri sebagai perintang. Sepucuk meriam berkaliber sedang buatan Portugis terpasang di sudut tenggara. Benteng ini adalah pos terakhir di ujung utara gugusan pulau-pulau Sangkarang. Benteng ini dijaga oleh Galla Toa, kepala kampung yang juga menguasai beberapa pulau tak berpenghuni di sekitarnya. Rumahnya berdiri di tengah-tengah benteng.

Di sudut barat dinding selatan, di bawah bayangan pohon beringin, seorang tukang sedang membuat perahu. Bunyi bertalu hentakan alatnya seketika terhenti manakala tukang itu melihat dua sosok itu. Kehilangan bunyi bertalu membuat udara seperti tak bergerak. Angin mati. Galla Toa, tidak seperti biasanya, tidak datang menyambut.

Baca juga: Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe – Cerpen Justang Zealotous (Fajar, 08 Juli 2018)

Ketika sampai di dalam benteng, dilihatnya Tobutu dengan beberapa orang anak buahnya berseragam baju rantai besi dan bersenjatakan pedang telah menantinya. Kini ia sadar bahwa ini adalah jebakan. Para Maraqdia bangsawan Balannipa, yang sebelum ini bersimpati kepadanya dan berusaha menyelundupkan dan menyelamatkannya ke Fort Rotterdam pastilah telah mendapat tekanan besar menyangkut dirinya. Serta merta ia mencabut senjata dari dipinggangnya, mengacungkannya ke langit sambil meraung.

Advertisements