Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sumbar, 04-05 Agustus 2018)

Menyimpan Buku ilustrasi Rakyat Sumbar.jpg
Menyimpan Buku ilustrasi Rakyat Sumbar 

DUA hari yang lalu, tepat sebelum perpustakaan itu roboh, kau sempat menceritakan tentang koleksi buku-buku dalam rak perpustakaan yang ada di pusat kota itu. Kau bercerita banyak hal: tentang buku, rak-rak, penjaga perpustakaan, juga lantai perpustakaan megah. Kau bercerita begitu lantang. Dengan suara menggebu-gebu dengan menunjukkan amarah yang begitu menakutkan.

Aku ingat benar ketika kau mengatakan bahwa di dalam perpustakaan, pegawai-pegawai perpustakaan sibuk dengan keasyikkan mereka masing-masing. Kau bercerita dengan mata nyalang, bola matamu yang hampir keluar dari kelopaknya, serupa buah yang telah membusuk di pohon dan siap jatuh. Kau memaki ketika mulai menyebutkan apa yang dilakukan pegawai-pegawai yang kau anggap tak lebih dari pengejar uang dan sibuk dengan gelar pustakawan.

“Apa sebenarnya tugas pustakawan?” tanyamu padaku dengan membentak. Tentu saja aku kaget dengan apa yang kau ucapkan.

“Sudah jelas jawaban dari pertanyaan yang kau lontarkan. Bahwa tugas pustakawan adalah menjaga perpustakaan. Ah bukan menjaga, lebih tepatnya mengurusi dan mencintai buku-buku. Selain itu, juga mencatat buku-buku, juga mengarsipkan setiap buku, juga mengurusi katalog agar mempermudah pembaca untuk mencari buku yang mereka inginkan. Dan yang paling penting adalah menghidupkan perpustakaan.”

“Tidak! Mereka sama sekali tidak peduli pada buku-buku itu,” bantahmu.

***

Kau mengeluh ketika buku-buku yang kau beli dengan harga selangit itu tidak dikembalikan oleh karibmu. Keengganan yang menyebabkannya. Karena rasa tak enak sehingga buku kesayanganmu itu tidak kembali ke tumpukan buku di kamarmu. Kau canggung untuk memintanya. Dan itu adalah kesalahanmu.

Baca juga: Bunga-bunga Marina – Cerpen Eko Setyawan (Solo Pos, 10 Juni 2018)

Harga buku memang selangit, setara dengan uang sakumu selama seminggu, itu pun belum terpotong uang bensin atau biaya jika sewaktu-waktu kau kehilangan bolpoinmu atau jika sewaktu-waktu kau harus membayar iuran fotokopi soal ujian yang dilakukan seminggu sekali.

Advertisements