Cerpen Dwi Wulandari (Jurnal Asia, 04 Agustus 2018)

Diamnya Pak Polisi ilustrasi Google
Diamnya Pak Polisi ilustrasi Google 

MENTARI sudah tiba, aku masih saja meletakkan tubuhku di atas kasur. Memainkan jemariku di atas layar handphone. Membiarkan mataku sayup tanpa ingin melihat indahnya mentari pagi. Kakiku terasa kaku, sulit untuk digerakkan.

“Selamat pagi anak kesayangan Mama,” ucap mama sambil mengecup keningku.

“Kamu udah baikan, Nak?” tambah Mama.

Aku hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa. Rasanya aku ingin pulang ke runah, menikmati semuanya di sana. Tidak di rumah sakit begini, aromanya tak sedap untuk aku hirup.

“Ma, Ghina belum boleh pulang ya? Bosen, Ma, di sini terus,” sahutku pelan.

“Baru juga tiga hari dirawat, udah sibuk minta pulang. Enggak lihat kondisi lo gimana?” sambar Ghani.

“Udah membaik kok, hanya saja kakiku sulit digerakkan.”

“Lo itu ya dasar anak kecil, udah ah di sini dulu. Lagian kalau di rumah siapa yang mau rawat?”

“Loh percuma dong, aku punya abang.”

Suasana di ruangan kamar 305 begitu ramai dengan celotehan Ghani yang tidak pemah bosan untuk menjagaku. Beribu cara ia lakukan, agar aku sembuh total. Dengan perdebatan yang tiada henti, akhirnya aku pun diajak keluar oleh Ghani ke taman rumah sakit. Menghirup udara segar tanpa ada aroma obat-obatan, melihat orang-orang berlalu lalang seperti pejalan kaki, pejalan sepeda motor dan lain sebagainya.

Aku sangat menikmati sejuknya udara pagi ini. Andai saja, aku bisa menikmati alam ini tepat di balkon rumah pasti jauh lebih menyenangkan. Entah perihal apa yang membuatku harus dirawat terus menerus di rumah sakit ini. Padahal kondisiku sudah membaik, tapi ya begini aku masih belum bisa berjalan. Masih ada kursi roda yang menemaniku pagi ini bersama Ghani.

“Dek, katanya lo punya doi. Mana doi lo? Udah tiga hari juga di sini, enggak kelihatan batang hidungnya.”

“Sibuk ngampus kali ya bang? Auh ah, aku enggak tahu dia sibuk apaan.”

“Yaelah, gue yang sibuk kerja saja masih bisa luangkan waktu gue buat lo.”

Advertisements