Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 29 Juli 2018)

Utang Darah Manusia Harimau ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Utang Darah Manusia Harimau ilustrasi Budiono/Jawa Pos

APA kau percaya karma? Ah, bukan. Ini bukan karma. Ini hanya kutukan. Kutukan temurun.

Di dusunku, kampung kecil yang menggeliat dan tumbuh di tepi aliran Sungai Lematang, tersembunyi oleh hutan belantara dan tak tahu kenapa diberi nama Tanah Abang, ada sebuah cerita yang melegenda. Mitos yang turun-temurun dirawat, bahkan kerap kali dijadikan dongeng pengantar tidur kanak-kanak.

Kata nenekku, setiap tahun kabisat akan ada satu anak keturunan kampung kami yang menanggung dosa leluhur ini.

“Oh, tidak, tidak. Ini bukan dosa. Bukan,” nenekku tergesa menggeleng dan mengibas-kibaskan tangannya. “Bukan. Ini hanya sebuah penebusan. Cuma penebusan. Kau tahu, kan? Kita hanya mencicil sebuah utang. Utang darah,” desisnya. Menghirup udara yang mungkin terasa mencekik lehernya.

“Tapi kenapa kita yang menanggungnya? Itu kan dosa nenek moyang.”

Nenek menggedik, lalu matanya menerawang jauh, melompati jarak dan waktu, bergegas menuju masa lalu.

***

KONON, sebelum orang-orang Tanah Abang beranak-pinak seperti rayap macam sekarang ini, kampung kami hanya diisi segelintir orang. “Tak lebih dari tiga ratus enam puluh enam orang,” tegas nenek.

Namun di sepanjang aliran Sungai Lematang sudah ada kampung-kampung lain seperti Siku, Dangku, Baturaja, Kuripan, Banuayu, Bulan, dan Belimbing, yang walau sangat jauh, tapi sudah berinteraksi dengan orang-orang Tanah Abang. Tersebab penduduk di kampung hulu itu dalam satu bulan pasti pernah menghilir, menuju Sungai Musi, untuk membeli bahan pokok di pusat Sriwijaya yang ada di Palembang.

“Tidak heran bila ada satu-dua bujang asing yang bertandang ke kampung kita ini. Biasanya bujang-bujang itu tengah mencari pujaan hati. Yang nenek tak pernah tahu, bujang-bujang itu selalu hapal rumah mana saja yang punya anak gadis.”

Advertisements