Cerpen Kartika Catur Pelita (Fajar, 29 Juli 2018)

Tikus Raskin ilustrasi Fajar.jpg
Tikus Raskin ilustrasi Fajar 

Musim baratan tiba. Masa-masa paceklik untuk para nelayan. Ombak dan angin kencang menyurutkan niat melaut. Hanya beberapa nelayan yang nekat berangkat, bertaruh nyawa demi mencari pendapatan. Meski terkadang setelah bertaruh nyawa, hasil yang didapat tak setara.

Bahkan mereka terkadang terpaksa pulang dengan tangan hampa. Beruntung jika mendapat tangkapan ikan sebiji barang dua biji bisa untuk lauk. Jika sedang apes, tak seekor ikan pun menyangkut pada jaring. Jika begini kenyataannya, para nelayan hanya dapat mengeluh. Untuk nelayan yang taat sembahyang, mereka berpikir jika rezeki kuasa Tuhan.

***

Warman dan Mono terlihat semringah, senang dan bungah ketika mendapat raskin. Pagi berembun uap laut itu bersama puluhan warga nelayan miskin di kelurahan Ujung Laut mereka mengambil beras raskin di balai desa. Masing-masing KK mendapat jatah 5 kilogram.

Pada wajah mereka setitik sinar berbinar. Musim baratan. Nelayan tak berani melaut.

Tak ada ikan yang ditangkap berarti tak ada pendapatan. Beruntung nelayan yang punya keahlian selain mencari ikan. Istilahnya mereka bisa kerja di darat. Entah nukang kayu, ikut proyek, atau sekadar kuli panggul. Namun untuk mencari kerja tak semudah membalik telapak tangan. Juga tak semua nelayan mampu kerja di darat. Kebiasaan bekerja di laut, membuat mereka merasa lebih asik kerja di laut daripada di darat. Sebagaian besar mereka hanya memiliki keahlian menangkap ikan. Ibaratnya kerja di laut tinggal menebar jaring, tanpa perlu memanan ikan. Padahal untuk pergi ke laut, mereka juga butuh solar asupan perahu dan bekal nasi atau roti untuk penguat energi si nelayan.

Ketika musim baratan tiba untuk makan sehari-hari, sebagian besar nelayan menjagakan tabungan, pinjaman tengkulak, atau ngutang di warung. Mendapat beras raskin mereka bisa sedikit bernapas lega.

“Pemerintah mengerti kesulitan kita,” gumam Kang Warman sembil menyeruput kopi pahit di warung Yu Jenah, janda beranak lima, yang suaminya, seorang nelayan hilang ditelan gelombang lautan musim baratan. “Setiap musim paceklik kita mendapat bantuan raskin.”

Advertisements