Cerpen Artie Ahmad (Kedaulatan Rakyat, 29 Juli 2018)

Segenggam Tanah Air ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Segenggam Tanah Air ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

BEBERAPA bulan yang lalu, Karjan masih melihat anak-anak di kampungnya bermain bola di lapangan ujung kampung. Beberapa minggu yang lalu dia melihat anak-anak itu bermain bola di antara batang-batang pohon kelapa yang sengaja dirubuhkan. Kini yang dilihat Karjan orang-orang berseragam yang membuat pagar betis. Teriakan-teriakan tetangganya terdengar saling sahut. Karjan menelan ludah, ternyata penggusuran itu benar-benar terjadi, bukan sekadar wacana semata.

Siti Halimah, istrinya itu menangis tersedu-sedu di sebelahnya. Rintihnya acap kali terdengar sembari mendekap anak semata wayang mereka yang masih berumur satu tahun. Satriya Piningit nama anak laki-laki itu. Seolah tak tahu gejolak yang dialami orangtua dan warga kampungnya, Satriya tertidur lelap di pelukan ibunya.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” tanya Siti Halimah di sela tangisnya.

“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa,” Sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.

Perlawanan semua warga yang mempertahankan tanahnya menemui ujungnya. Mau tak mau, rela atau tidak tanah mereka harus steril. Bandar udara baru akan dibangun di atas tanah mereka. Rumah dan tanah milik Karjan salah satu yang terkena dampak pengosongan lahan. Uang pengganti diberikan, tapi hatinya masih menolak, meski usahanya melawan tetaplah hanya sekadar perlawanan belaka. Pagar bumi dibangun mengelilingi kampung mereka, untuk memberikan batas kepada warga saat realisasi proyek dikerjakan nanti.

Baca juga: Padang Beton – Cerpen Artie Ahmad (Kedaulatan Rakyat, 19 November 2017)

Teriakan Lik Paijan masih terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tapi perlawanan Lik Paijan pun percuma saja, beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.

“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampung yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.

“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapatkan ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan perlahan.

Advertisements