Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 29 Juli 2018)

Sebilah Rindu ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Sebilah Rindu ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

SORE itu sebilah rindu menyusup ke dalamku. Memanggil masa lalu yang masih berdiam dalam salah satu kamar rumah ini. Sebuah ruang yang hanya berisi buku-buku. Di antara buku-buku yang berhimpit dalam rak itu, adalah sebuah buku yang berisi kumpulan dongeng-dongeng Hans Christian Andersen. Rindu membawaku menjelma buku itu. Memanggil dirimu kembali ke dalam rumah ini.

Aku takkan lupa hari itu. Saat kau pertama kali menemukanku. Kedua matamu berbinar terang. Tanpa menawar hargaku (tak seperti kebanyakan para pembeli lainnya), kau langsung membayar dan mengambilku dari lapak kecil yang kumuh itu.

Kau membawaku menepi ke sebuah taman. Memperlihatkanku kepada seorang gadis yang sepertinya telah lama menunggu di sana. Wajahmu begitu riang. Seolah kau hendak mempersembahkan sebuah berlian mahal kepadanya.

“Lihat, aku mendapatkan apa ini.”

“Apa? Wah, Hans Christian Andersen!” sahut gadis itu, dengan suara tak kalah antusiasnya.

“Dongeng-dongeng ini akan menjadi pengantar tidur yang bagus untuk anak-anak kita.”

Gadis itu tergelak. Dia bilang masih harus berapa tahun lagi untuk hal itu bisa menjadi kenyataan. Aku bisa merasakan getar kebahagiaannya saat memegangi dan membuka-buka halaman demi halamanku.

Baca juga: Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah – Cerpen Adi Zamzam (Tribun Jabar, 18 Maret 2018)

Betapa bahagianya pula diriku bisa menjadi perantara perasaan kalian. Aku yang semula hanya benda remeh-temeh kemudian naik pangkat menjadi sesuatu yang amat penting bagi kalian. Berbilang tahun. Lebaran demi Lebaran. Rumah ini berdiri dan kalian meletakkanku berhimpitan dalam sebuah rak. Suara riuh rendah anak-anak kalian mulai terdengar. Diriku menjadi sesuatu yang paling sering kalian perlihatkan kepada mereka di tempat tidur.

Itu dulu. Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Diriku kembali menjadi seonggok benda remeh tanpa guna. Teronggok berhimpitan di dalam kamar ini. Berselimut debu kamar. Kesepian. Hampir hilang harapan. Seperti sebuah cinta yang kedinginan karena tak ada lagi yang mendekapnya.

Advertisements