Cerpen Adam Yudhistira (Lampung Post, 29 Juli 2018)

Riwayat Gelang Akar ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post.jpg
Riwayat Gelang Akar ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post

MASIH terang dalam ingatan Rao, peristiwa berdarah tujuh belas tahun yang lalu, saat ia dan gerombolannya dikepung polisi di belantara Himbe Ijang. Mereka hanya diberi dua pilihan; menyerah atau melawan. Dua pilihan itu sama buruknya. Jika tertangkap, mereka akan berakhir di penjara dan jika melawan, mereka akan berakhir di kuburan—itu pun jika mayat mereka tidak dibuang.

Malam itu, belantara Himbe Ijang riuh oleh suara tembakan. Tiga anak buah Rao mati diterjang peluru, sedangkan dirinya berhasil lolos dari maut setelah berhasil melarikan diri dan menerabas gelap pekat belantara Himbe Ijang. Ia menjatuhkan diri ke jurang Matauh yang terkenal dalam dan angker. Para polisi menghentikan pengejaran dan sejak saat itulah Rao resmi menjadi buronan.

Ia mengembara di sepanjang Pulau Sumatera. Dari Bengkulu, ke Jambi, menetap sebulan dua bulan di Padang, hingga akhirnya pelarian itu mengantarkannya ke kota Medan. Di kota inilah Rao menyamar sebagai sopir sodaco yang mengambil jurusan Simalingkar-Padang Bulan.

Jika ditanya, siapa sosok yang paling dirindunya, maka jawabannya tentulah kepada Mar. Rao merindukan perempuan itu hampir setiap hari. Satu-satunya yang bisa mengobati kerinduan itu hanya selembar foto yang selalu ia simpan di saku baju. Di dalam foto itu Rao memeluk Mar—perempuan yang mengenakan daster bermotif bunga asoka dan tampak sedang hamil tua.

Bertahun-tahun ia membekap rindu, terlunta-lunta di tanah orang, dihantui bayang-bayang masa lalunya yang hitam. Rao tak punya keberanian untuk pulang, tersebab malu bertemu Mar.

Namun tabiat rindu memang demikian keras kepala. Meski sudah bertahun-tahun Rao mencoba mengenyahkannya, namun selalu saja, rindu itu datang dan membuat batinnya terpiuh-piuh remuk redam. Sampai pada akhirnya kesempatan menuntaskan rindu itu datang. Marpaung, teman dekatnya yang berprofesi sebagai sopir truk ekspedisi, memintanya mengantar muatan ke Jakarta.

“Anak sulungku masuk rumah sakit. Kau tahu, sejak Julaiha meninggal, akulah satu-satunya orang tuanya. Tolonglah, aku betul-betul butuh bantuanmu. Tak akan lama. Satu minggu saja,” kata Marpaung.

Advertisements