Cerpen Yulputra Noprizal (Haluan, 29 Juli 2018)

Pertemuan ilustrasi Haluan.jpg
Pertemuan ilustrasi Haluan

Mengingat umurnya sudah menginjak 35, tentu bukan hal yang mengejutkan jika Piril mudah jatuh cinta pada perempuan. Pada malam-malamnya yang terasa panjang, Piril sering mengalami apa yang orang sebut berangan-angan. Kadang ia berangan ketemu seorang perempuan di jalan kampung, perempuan itu lantas menyapanya, ia dengan perempuan itu kenalan, lantas mengobrol, lantas sama-sama tertawa, lantas—seperti yang diangankan Piril—mereka sepakat menikah. Kadang terbayang seorang kawan SMA oleh Piril. Seorang perempuan yang sekelas dengannya kala kelas III, dan perempuan itu masih lajang pula. Karena sama-sama lajang, dan tak mau menunggu, mereka sepakat menikah. Namun, beberapa minggu ini Piril tidak lagi beranganangan. Ia sudah bergerak. Begerak lewat media sosial. Reni nama perempuan itu. Tinggal di Bandar Buat, Padang. Mengaku berumur 25 tahun. Bekerja sebagai pramuniaga di Permindo. Lewat messenger Piril bikin janji bertemu.

Piril berwajah lonjong dengan tulang pipi menonjol. Matanya agak cekung dan kulitnya sawo matang. Kesehariannya, mengontrak sebuah toko di Air Haji yang ia isi dengan aneka kaset VCD. Pernah merantau ke Jakarta sepuluh tahun kemudian pulang karena tak tahan terus-terusan dikejar Satpol PP. Lagi pula, jualan bajunya tidak laku betul. Ia pulang ke Air Haji. Sebelum ngontrak toko, ia berladang jagung. Tetapi jagung sering diserang hama, maka terbit pikiran Piril untuk jualan VCD. Tak dapat dielakkan lagi, semenjak berjualan VCD ini kegemaran lama Piril muncul lagi. Menonton film blalabla.

Sejak perkenalan lewat faceook dengan Reni—Piril yang add friend—dan memberanikan chat pertama, Piril diserang fantasi tiada bandingnya. Mendadak dunia berubah jadi indah. Ia jadi sering bersiul sehabis mandi sebelum berangkat ke toko, ia diterpa warna-warni dunia. Kepahitan hidup yang sering ia rasakan saat bermenung, seakan sirna begitu saja. Tiap hari, sekali sejam, Piril stalking profil Reni. Ada kenikmatan tersendiri, ada kepuasan tersendiri. Apalagi saat Piril membaca status-status Reni. Walau sebenarnya status Reni itu ke itu saja. Kadang terbetik kesal di hati Piril, kenapa Reni tak aktif di online setiap hari. Tapi kesal seketika hilang saat Piril ngajak chat dan Reni selalu membalas. Mereka bisa menghabiskan waktu satu jam untuk chat.

Baca juga: Persimpangan Berdarah – Cerpen Trah W (Haluan, 05 November 2017)

Pukul tujul lewat sepuluh menit. Berkali-kali Piril menengok jam. Ia sudah selesai mandi. Sambil bersiul ia mengeluarkan baju terbaik dari lemari, kaos oblong putih bermerk yang ia beli di Padang, celana jins karet ketat warna hitam. Sesaat Piril mematung, berpikir, pakai sepatu atau sandal. Akhirnya ia putuskan melengkapi stelan dengan sepatu. Sepatu sport putih bergaris hitam di sana-sini. Baju ia kenakan, celana ia kenakan. Terpikir lagi sembari memandang diri sendiri di cermin, baju dimasukkan ke celana ke dalam atau dibiarkan keluar. Membayangkan suasana santai yang akan ia temui—bertemunya Reni di sebuah kafe di Padang—Piril akhirnya tidak memasukkan bajunya ke dalam celana.

Advertisements