Cerpen Nazil Muhsinin (Solo Pos, 29 Juli 2018)

Perempuan Penggemar Burung ilustrasi Solo Pos
Perempuan Penggemar Burung ilustrasi Solo Pos

Minasih adalah perempuan penggemar burung. Sungguh menyenangkan, karena perempuan penggemar burung di negeri ini masih dibilang langka. Bahkan, kesannya bisa ngeres karena menimbulkan salah paham.

Mula-mula yang dibelinya adalah seekor burung kutilang dengan sangkar yang digantungkan di teras depan. Kutilang itu selalu berkiciu riang menjelang senja dan menjelang pagi.

Lalu Minasih membeli sepasang kenari dengan sangkar yang digantungkan di teras belakang. Kenari-kenari itu selalu berkicau riang menjelang tengah malam. Selanjutnya, setiap Minggu pagi Minasih pergi ke pasar burung untuk membeli burung jenis lain, perkutut, jalak, cucak, murai, lovebird. Minasih ingin mengoleksi semua jenis burung yang dijual di pasar burung. Dengan begitu, pasti akan banyak pencinta burung yang datang ke rumahnya sekadar ingin mendengar suara kicau burung akan mencoba membelinya.

Sudah menjadi tradisi, para pencinta burung akan senang mendatangi rumah pemilik berbagai jenis burung. Dan faktanya, semua pencinta burung adalah laki-laki. Di daerahnva, kecuali Minasih, pencinta burung semuanya laki-laki. Masalah pun muncul, ketika ada seorang laki-laki dari luar kota yang mendatangi rumah Minasih menjelang senja hanya untuk mendengar kicauan kutilang. Rupanya laki-laki itu dulu pemilik kutilang yang kini berada di rumah Minasih.

Laki-laki itu sangat rindu pada suara kicau kutilang yang pernah dipeliharanya sekian bulan sebelum kemudian terpaksa dijual ke pasar burung karena dia sedang membutuhkan uang untuk membayar biaya sekolah anaknya. Laki-laki itu hidup menduda, karena istrinya telah wafat pada saat melahirkan anak pertama. Kini anaknya sekolah di luar kota sekaligus mondok di pondok pesantren. Sehari-hari laki-laki itu hidup sendirian di rumah sebagai petani.

Ketika laki-laki itu datang di rumahnya, Minasih menerimanya dengan ramah. Ditemaninya laki-laki itu menanti kutilang berkicau menjelang senja. Tapi ternyata kutilang itu tidak berkicau hingga senja berganti malam. Laki-laki itu kemudian minta izin untuk menginap di rumah Minasih agar dia bisa mendengarkan kicauan kutilang menjelang pagi.

Advertisements