Cerpen Agus Noor (Kompas, 29 Juli 2018)

Pelahap Kenangan ilustrasi I Wayan Wirawan - Kompas
Pelahap Kenangan ilustrasi I Wayan Wirawan/Kompas 

Kau bisa dengan mudah mengenali orang-orang yang hidup dalam kenangan. Mereka selalu terlihat murung. Tahukah kau, karena dalam kepala mereka ada belatung yang perlahan-lahan menggerogoti kenangan mereka. Tapi mereka tak pernah menyadarinya.

Kenangan memang seperti peta buta, yang bisa membuat kita tersesat di dalamnya. Aku pernah melihat orang yang terperosok dalam kenangannya yang mengerikan. Orang-orang bahkan selalu merasa bergidik setiap ada yang menceritakan kembali apa yang terjadi padanya. Ia dianggap menghasut buruh untuk melakukan pemogokan, lalu terjadi kerusuhan di pabrik garmen tempatnya bekerja. Sebuah gudang terbakar. Aparat menciduknya.

Sebulan setelahnya ia dipulangkan dengan ambulan. Tubuhnya nyaris lumpuh, dan ingatannya kosong. Ia tak bisa mengingat apa yang terjadi, atau memang tak ingin mengingatnya. Orang-orang hanya menduga-duga berdasarkan desas-desus: selama diinterogasi kepalanya dibenamkan dalam karung berisi pasir, dan kemudian dihajar dengan pentungan. Itu cara efektif membuat gegar otak tanpa perlu membuat batok kepala retak. Disetrum berulang-kali dan disundut pelupuk matanya dengan rokok. Dan bokongnya disembelit dengan gombal hingga ia tak bisa berak.

Kenangan buruk membuatnya seperti pohon keropos yang digerogoti dari dalam. Sepanjang hari ia tergeletak di ranjang dengan pandangan kosong.

Sampai akhirnya ia bunuh diri, menghantam kepalanya pakai kapak. Seperti semangka busuk, kepalanya terbelah remuk, dengan ribuan belatung melahap sisa otak yang berceceran.

Belatung-belatung itu…

***

Ren menceritakan padanya perihal orang-orang yang bisa memalsu kenangan. Mereka adalah Sindikat Pemalsu Kenangan. Ren yakin, mereka sudah ada sejak dulu kala, jauh sebelum manusia. Mereka terlahir dari kenangan. Sebab Tuhan lebih dulu punya kenangan, sebelum menciptakan manusia.

Baca juga: Kunang-kunang dalam Bir – Cerpen Djenar Maesa Ayu dan Agus Noor (Kompas, 10 Oktober 2010)

Mereka seperti persaudaraan rahasia. Mereka makhluk-makhluk abadi pelintas ruang dan waktu. Sesekali mereka menampakkan diri, berjubah kelabu, dengan wajah tersamarkan topi yang juga berwama kelabu, seperti bayangan terselimuti kabut, tetapi kau menyangka hanya hantu, yang segera menghilang dari hidupmu, ujar Ren meyakinkan. Mereka muncul untuk menemui orang-orang yang membutuhkan kenangan.

Advertisements