Cerpen Tary Lestari (Tribun Jabar, 29 Juli 2018)

Lelaki di Bukit Temung ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Lelaki di Bukit Temung ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar 

LAKI-laki itu berdiri di ujung bangunan kafe miliknya, menatap matahari yang menghilang di balik gemerlap Danau Lut Tawar. Langit bergaris kelabu dan merah muda membentuk siluet kelam seperti matanya yang murung. Tangannya yang kurus mencengkeram lengannya sendiri seolah ingin meringkus udara dingin. Bukit Temung tak pernah pilih kasih. Penduduk lokal atau pendatang akan mengerut disergap gigil.

Hampir seminggu aku terjebak di tempat ini untuk menulis artikel tentang kopi. Bos mengirimku untuk menemui lelaki itu. “Dia adalah jendela kopi, kau bisa menyerap dari ampas hingga ke akarnya. Tak perlu ke mana-mana, dia tahu segalanya. Bahkan dengan menatap matanya, kau akan tahu cintanva pada kopi akan dibawa sampai mati,” begitu kata Bos.

Tetapi yang kutemui sebaliknya. Lelaki itu tak mau bicara. Ketika aku datang menyodorkan kartu nama dan mengutarakan niat untuk wawancara tentang kopi, ia menggeleng. Matanya menatapku tajam penuh selidik. Ia beranjak ke balik meja kopi lalu tangannya bergerak pelan mengambil bubuk kopi, menuangkan ke dalam saringan, lalu menyeduhnya dengan air panas. Sebelum aku memalingkan muka, ia menyuguhkan kopi racikannya ke hadapanku. “Saya tidak minum kopi,” kataku.

“Bagaimana kau bisa menulis tentang kopi kalau kau tak minum kopi?”

“Saya sakit tukak lambung.”\

“Aku tidak bertanya penyakitmu,” katanya beranjak menemui pengunjung kafe yang lain.

Aku tahu, semua waktuku akan sia-sia.

“Kita perlu narasumber lain, Pak,” kataku pada Bos melalui telepon setelah kemarahanku naik ke ubun-ubun. “Laki-laki ini tak mau bicara.”

“Kalau kau tak mendapatkannya, kau tak perlu kembali ke kantor,” balas Bos tak kalah sengit.

Pesona apa yang dimiliki lelaki ini sehingga bisa membuat Bos teperdaya. Posturnya yang tinggi kurus, rambutnya yang gondrong berantakan, dan tatapan matanya yang tajam penuh selidik. O, mungkin matanya itulah yang membuat Bos mengirimku ke sini, agar aku bisa berenang mengais biji-biji kopi di dalamnya.

“Kamu masih ingin tahu tentang kopi?”

Advertisements