Cerpen Rahmy Madina (Suara Merdeka, 29 Juli 2018)

Kain Batik Ibu ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Kain Batik Ibu ilustrasi Suara Merdeka 

Terakhir kali Ibu bicara panjang adalah malam setelah Bapak dimakamkan. Aku duduk di samping Ibu yang tengah melipat kain batik panjang, kain yang baru dia keluarkan dari lemari. Aku tidak pernah melihat kain itu sebelumnya, tetapi aku pernah mendengar dari banyak orang di luar sana bahwa Bapak punya kain yang sangat berharga. Banyak orang di luar sana mempertanyakan dan menginginkan kain itu.

Dari gerak-gerik Ibu, aku tahu kain itu berharga bagi dia, sangat berharga. Bukan karena batik tulis itu mereka inginkan, melainkan lebih karena kain itu peninggalan Bapak.

“Peninggalan bapakmu cuma ini. Bapak suruh Ibu menjual saja. Namun Ibu nggak bisa. Ada Bapak di kain ini. Keringat Bapak, harapan, cinta Bapak pada kita semua.”

“Mau Ibu apakan kalau tidak Ibu jual?”

Ibu tersenyum sambil melipat kain itu. Dia berdiri, kemudian memasukkan kain itu ke lemari tua di hadapan kami.

“Barangkali kalau kelak kamu jadi pengantin bisa pakai batik ini.”

Setelah Bapak meninggal, rumah sepi dan Ibu lupa cara tersenyum. Sekeras apa pun aku mengajarkan, Ibu tetap tak mampu. Aku selalu menatap berlama-lama agar dia bertanya atau setidaknya menanyakan kabarku karena aku pun tidak baik-baik saja. Namun Ibu tetap lebih sering diam, bicara seperlunya. Bahkan saat kurasa dia perlu bicara pun, Ibu tetap diam. Seolah-olah suaranya terkubur bersama jasad Bapak, bersama keinginanku merasakan cintanya.

Tidak ada yang mau tinggal di rumah, kecuali aku karena aku anak bungsu. Ketiga anak lain, di mataku, seolah-olah bukan anak. Hanya nebeng status dan menempel pada keberadaan Ibu. Datang hanya ketika mereka butuh untuk menempel. Tak ubah seperti bayi rindu puting. Itu saja. Tidak pernah membalas peluk Ibu.

Namun sejujurnya aku juga rindu peluk Ibu yang tak pernah mendarat ke tubuhku. Aku selalu merasa kadar sayang Ibu sudah terbagi rata dan habis sebelum kehadiranku. Mungkin karena itu dia lebih banyak diam. Berbeda dari saat mereka datang bertandang; Ibu serupa beo, tak bisa diam.

Advertisements