Cerpen Matdon (Pikiran Rakyat, 29 Juli 2018)

Berobat ilustrasi Rifki Syarani Fachry - Pikiran Rakyat.jpg
Berobat ilustrasi Rifki Syarani Fachry/Pikiran Rakyat

SORE pucat, matahari mulai menepi. Tubuhku limbung, kepala pusing, bumi serasa berputar. Sementara sesenggukan masih terus rajin mengganggu tenggorokanku, sejak pagi hari aku didera sesenggukan, setelah ikut membantu membereskan rumah kuriak di Jalan Kopo Bandung, rumah yang  kusediakan untuk anak cucu nanti.

Aku ingat, sudah tiga hari membantu merehab rumah itu, pagi sampa sore. Selama itu aku kurang tidur, malam hari menghabiskan diri dengan menulis, di depan laptop didampingi rokok serta kopi. Baru bisa tidur jam 3 pagi atau setelah solat subuh. Setelah itu kembali ke pekerjaan membantu rumah. Kini  gelap.

Tiba tiba aku berada di Jakartra, untuk menerima hadiah lomba menulis berita, aku juara  3 dalam lomba itu antarwartawan se-Indonesia, sebelumnya aku tidak pernah tertarik dengan lomba semacam itu. Setelah menerima hadiah sebesar 8 juta, aku titipkan uang itu pada Adi, keponakanku.

Dari Jakarta menuju Bandung, bus nyemprung dengan kecepatan mahadahsyat, duduk di sampingku seorang wanita cantik, usisanya sekitar 30 tahunan.

“Bandung, Neng?”

“Iya,” jawabnya pendek.

Suasana hening, kecuali suara deru mobil dan sesekali suara klakson. Sekitar 20 menit berlalu, wanita itu berdiri, lalu memegang pundakku dan berkata:

“Saudara-saudara sekalian, perkenalkan ini calon suami saya,” katanya seraya tersenyum dan menunjuk ke arah saya. Para penumpang menoleh padaku, diam, hanya menoleh. Lalu wanita cantik itu meneruksan perkataannya.

“Sebentar lagi kami akan menikah, tempatnya di sebuah gedung termahal melebihi Taj Mahal. Kami akan berbulan madu di hutan, di keindahan alam raya yang sangat indah,” katanya. Penumpang tak ada yang peduli, aku juga enggan mendengarnya. Lantas aku tertidur. Tak ingat apa-apa lagi.

Baca juga: Prabowo dan Jokowi – Cerpen Matdon (Tribun Jabar, 27 Mei 2018)

“Pak, pak…bangun! sudah sampai,” seseorang menepukku. Kernet bis.

Aku sudah sampai di terminal Leuwipanjang Bandung. Penumpang bus sudah tidak ada, tinggal aku. Buru-buru turun dan culang cileung. Dua wanita nampak menghampiriku dan tanpa berkata apa apa, ia mengikat tanganku dengan rantai,  kuat sekali.

“Ada apa ini? Lepaskan!” aku meronta.

Advertisements