Cerpen Dwi Rezki Fauziah (Media Indonesia, 29 Juli 2018)

Di Balik Sebuah Tawa ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Di Balik Sebuah Tawa ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

SELALU ada hal baru yang kutemukan setiap kali aku memasuki bangunan itu. Sebuah sekolah menengah atas yang punya asrama. Sekarang memang marak-maraknya sekolah berbondong-bondong merubah sistem pengajaran. Awalnya reguler—datang pagi pulang petang, menjadi boarding school—datang habis lebaran, pulang sebelum Ramadhan di tahun selanjutnya. Mengapa demikian? Aku tak tahu-menahu tentang itu. Aku hanyalah seorang petugas sampah, yang bertugas mengangkut sampah anak-anak remaja yang tinggal di sana.

Semenjak sekolah ini berdiri tiga tahun silam, aku sudah menekuni pekerjaan ini selama lima tahun. Biasanya di pagi buta, aku mengunjungi kompleks perumahan, di mana terdapat barang-barang rumah bekas yang sebenarnya masih bisa digunakan. Tak segan kubawa pulang bila kudapati demikian. Kucuci sedikit sebelum sampai rumah, dengan begitu isteriku tidak akan terlalu mengeluh tentang baunya yang sudah tidak terdeteksi lagi. Ada udang basi, minyak jelantah, gorengan bermalam, opor uletan, terasi, telur busuk dan sisa-sisa makanan dapur lainnya.

Bungsuku sendiri—karena dia laki, aku sering membawakannya mainan anak-anak dari kompleks perumahan itu. Mainan yang menurutku sangat tidak layak untuk berada di tempat sampah. Mobil-mobilan misalnya, baru lepas rodanya satu, sudah dibuang. Padahal kan masih bisa jalan. Ada juga boneka Barbie—cocok untuk anak perempuanku, masih baru, masih utuh. Hanya saja kutemukan memang dalam keadaan telanjang. Aku menduga-duga pemiliknya pasti kehilangan baju boneka ini. Padahal isteriku bisa saja menjahitkannya baju dari kain-kain bekas hasil mulung juga. Benar kata Will Rogers, terlalu banyak orang menghabiskan uang yang mereka dapatkan untuk membeli hal yang tidak mereka inginkan. Haha, aku membacanya dari sampul buku yang kupulung kemarin dulu.

Aku bersyukur anak dan isteriku paham keadaan keuangan kami. Mereka takkan mengeluh bila tiap lebaran, yang bisa kuberikan hanya baju bekas. Atau mukenah putih yang sudah menguning. Anak-anakku juga tidak pernah merengek dibelikan mainan baru. Hanya saja, si sulung itu—karena sudah kelas sembilan, dan sudah tidak tertarik dengan mainan lagi, kadang cemburu bila kupulang dengan tangan kosong untuknya. Dia juga sudah sadar akan pekerjaan orang tuanya, dan sesekali merajuk karena diejek teman sebayanya. Kalau itu sudah terjadi, aku hanya bisa berkata padanya untuk sabar. Sebab rasanya itulah satu-satunya pembelaan yang paling mungkin dilontarkan oleh kami—kaum-kaum daif.

Advertisements