Cerpen Felix K. Nesi (Koran Tempo, 28-29 Juli 2018)

Ain Meni ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Ain Meni ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Itu hari Minggu yang cerah di suatu musim penghujan. Pohon-pohon gamal berbunga, daun-daun mahoni mekar dan menghijau. Ain Meni masuk ke kakus dan menangis; suaminya akan segera mati.

Ibunya dahulu bercerita, jika burung kot-kotos [1] turun ke halaman sebelum matahari terbit, akan ada tamu yang datang berkunjung. Namun jika hal itu terjadi selama tiga hari berturut-turut—kot-kotos turun ke halaman sebelum matahari terbit—dan tak ada tamu yang datang berkunjung, seorang dari keluarganya akan segera mati.

Dan itulah yang telah terjadi selama tiga hari terakhir ini. Burung kot-kotos turun ke halaman pagi-pagi benar, sebelum matahari terbit, tapi tak ada seorang pun tamu yang berkunjung. Sementara itu, Siub Suli, suaminya, makin sekarat di tempat tidur.

Kakus terletak 25 meter dari rumah, dan samar-samar ia mendengar suaminya mengerang. Dadanya luruh dan perutnya berputar-putar. Tanpa mengejan tahi cair jatuh ke penampungan jamban. Kepanikan telah membuat ia mencret.

Seminggu lalu, dengan telanjang Siub Suli terjun ke jurang sedalam 12 meter. Tubuhnya tersangkut di dahan-dahan pohon sebelum terhempas ke tanah. Beruntunglah ia tidak mati, tapi celakanya ia terluka sangat parah. Tulang pahanya hancur tak bisa digerakkan dan sekujur tubuhnya penuh luka. Dahan pohon sebesar betis sapi menghancurkan rahangnya, dan ia tidak mampu berteriak meminta tolong. Saat Neno Amaf menemukan ia pagi-pagi buta, Siub Suli tidak sadarkan diri. Ia dinaikkan ke punggung kuda, masih telanjang bulat, terjuntai-juntai sepanjang jalan masuk ke kampung.

Baca juga: Mayat-mayat yang Hilang – Cerpen Felix K. Nesi (Koran Tempo, 04-05 November 2017)

Namun Naef Atanus, dukun kampung yang mampu mengobati patah tulang hanya dengan satu mantra dan dua kali semburan ludah sirih-pinang, menolak mengobati Siub Suli.

“Saya tidak mau mengobati pendosa. Orang tidak tahu diri ini telah mengkhianati leluhur dan bersekutu dengan iblis. Iblis telah meminta ia telanjang dan terjun ke jurang.”

“Suamiku bukan pendosa,” bantah Ain Meni. “Kita semua tahu itu. Ia tidak pernah makan nuni [2] dan mengikuti semua nono [3]. Ia tidak pernah alpa berdoa rosario di KUB [4] dan selalu datang ke kapela setiap hari Minggu. Periksalah dia. Mungkin saja, di jalan menuju kebun tuak, kebutaan menamparnya dan ia terpeleset ke dalam jurang.”

Advertisements