Cerpen Miftah Amarudin (Pikiran Rakyat, 22 Juli 2018)

Menikam Gurita ilustrasi Zulfa Nasrullah - Pikiran Rakyat.jpg
Menikam Gurita ilustrasi Zulfa Nasrullah/Pikiran Rakyat

MASIH terngiang dengan jelas di telingaku tentang dongengan kakek dahulu, sewaktu aku hendak tidur dan berangkat sekolah. Dongengan itu selalu diucapkan kakek dan aku selalu antusias mendengarnya. Katanya ini semua adalah milik kita, kepunyaan kita, warisan dari zaman kakek dan peninggalan kramat dari para leluhur untuk zaman kamu dan cucu kakek di masa depan.

“LIHAT banyak orang menaruh harapan pada ladang yang tak lebih luas dari rumah kita, lihat pula pepohonan yang berbaris rapi kala beribadah kepada sang pencipta dan itu lihat di pucuk ranting pohon beringin itu terdapat sarang pohon pipit yang sengaja dibuat olehnya karena merasa nyaman dan aman tinggal di situ.”

Waktu itu aku berusia 3 sampai 4 tahun. Tampak asik dongengan kakek dan aku beruntung sekali dilahirkan di daerah ini. Alam yang indah, sejuk, nyaman, aman serasa hidup di surga. Walau belum pemah ke surga tetapi aku pernah mendengar gambaran tentang surga dari cerita nenekku. Katanya di surga itu segalanya ada, kamu ingin meminta apa pasti tersedia di sana. Tak ada ketimpangan di sana. Semua manusia sejahtera, makmur, dan bahagia.

Belum aku lupa ketika nenek bercerita itu. Waktu itu ketika aku sedang menangis karena meminta dibelikan bakso oleh ayah, tetapi tidak dibelikan. Alhasil aku lari dan mengadu ke nenek. “Nek, Nek Ayah jahat, Ayah tak mau membelikan aku bakso. Aku ingin bakso itu, Nek.” Sembari menunjuk­nunjuk ke arah orang penjual bakso tersebut.

Kemudian nenek langsung mengambil aku dan mendekapkan lalu mencium  pipiku, “Sudah-sudah sini, Cu, Nenek ada cerita untukmu. Kamu menangis karena tidak dibelikan bakso oleh ayahmu. Kamu tidak usah menangis ayahmu mungkin sedang tidak ada uang, dia sedang memiliki cita-cita, Cu. Ayahmu itu ingin membangun sebuah rumah di surga kelak. Di sana semua yang kamu inginkan pasti ada, semua itu dapat kamu pastikan. Dan di sana pula terdapat sungai-sungai yang mengalir berbagai jenis air, ada sungai yang berisi air jernih, ada yang berisi susu, ada yang berisi madu, dan lain-lain. Jadi kamu tidak usah menangis kamu bantu ayahmu itu ya, Cu.”

Yeah… yeaah betapa senangnya aku mendengar cerita dari nenek. Aku keluar dari dekapan nenek lalu berkata “Yang benar itu, Nek ?” lalu nenek menjawab, “Iya benar, Cu.” Yeah semoga ayah dapat segera membangun rumah di surga. Bukan main senangnya aku menaiki kursi, meja, dan berlompatan di atasnya.

Advertisements