Cerpen Ida Fitri (Republika, 22 Juli 2018)

Sore Sebelum Kenduri ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Sore Sebelum Kenduri ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Ada bergoni daun ubi di depan para perempuan itu, daun ubi yang akan digunakan untuk kenduri, mereka duduk melingkar di bawah pohon belimbing wuluh yang berada di belakang rumah Kak Puteh, Kak Puteh yang akan mengawinkan putranya dengan gadis dari seberang sungai, esok hari. “Kemarau, kemarau telah membuat daun-daun ubi menjadi seperti ini, mengerut dan tidak segar,” Kak Na terus memisahkan daun ubi dengan tangkainya.

“Tolong ambilkan aku sedikit daun ubi itu, biar aku bantu kau pisahkan dengan tangkainya,” Wa Rabumah yang baru saja sampai di tempat itu melepas sandalnya dan duduk tepat di samping Kak Na.

“Masuk saja kau ke dalam, cari pisau, lihat itu yang sudah dipisahkan tangkainya cukup banyak, Cuda Hendon kewalahan memotongnya.”

Wa Rabumah bangkit berdiri, kemudian melangkah ke dalam melalui pintu belakang untuk menanyakan pisau pada yang empu rumah. Kesibukan persiapan kenduri terlihat jelas; sebagian perempuan kampung bergerombol membersihkan ayam, mencabut bulu-bulunya, membelah dadanya, mengambil tembolok dan membuangnya, mereka juga membelah bagian antara kedua kaki ayam, mengeluarkan jeroan dan bahan dalam lainnya dengan sangat cekatan. Sementara di lingkaran yang lain, beberapa perempuan terlihat merajang cabe hijau, bawang merah, dan bawang putih, kesemuanya saling berbicara di antara sesamanya yang menimbulkan suara berisik.

Baca juga: Ingin Seperti Gabo – Cerpen Ida Fitri (Tribun Jabar, 08 Juli 2018)

“Dari mana Kak Puteh mendapatkan daun-daun ubi ini, ya?” tanya Cuda Hendon.

“Sepertinya dari kebun Nyak Syukri,” Wa Rabumah yang muncul kembali dengan pisau di tangan, mengambil tempat duduk di tempat yang tadi ditinggalkannya.

“Ah, kau menyebut nama itu, aku jadi ingat lagi, tragis nian nasib anak muda itu, masak harus menikahi janda yang lebih cocok menjadi ibunya,” timpal Kak Na, matanya tetap fokus pada daun-daun ubi yang sedang dipisahkan dengan tangkainya.

“Aku dengar Kak Nun memang mengejar-ngejar Nyak syukri, orang kampung sering menemukan perempuan itu menunggui Nyak Syukri membersihkan kebun.”

“Sungguh keterlaluan Kak Nun itu, pemuda bau kencur saja diembat.”

“Sudah-sudah, itu memang sudah jodohnya Nyak Syukri,” sela Cuda Hendon.

Advertisements