Cerpen Chandra Buana (Suara Merdeka, 22 Juli 2018)

Sekelam Dirham ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Sekelam Dirham ilustrasi Suara Merdeka

Sudah dua jam Dirham terkurung di rumah. Dia tak bisa keluar dan main. Padahal, dia ingin bermain layang-layang. Namun karena matahari terlalu terik, sang bapak melarang. Bapak mengancam akan menyabet jika dia bersikeras keluar.

Dirham berfisik lemah dan cepat lemas. Tak jarang dia pulang dengan hidung berdarah. Kini, setelah merasa tak terlalu terik, Dirham meminta izin kembali kepada sang bapak untuk pergi bermain.

“Kamu sudah salat asar?” sahut Bapak.

“Belum, Pak.”

Dalam hitungan detik, sang bapak melepas gesper dan mencambuk Dirham tanpa ampun. Dirham berteriak. Namun sang bapak terus mencambukkan gesper.

“Masih kecil sudah berani ninggalin salat. Mau jadi apa kamu!”

“Bapak sudah! Berhenti. Dia masih kecil!” ujar Ibu seraya keluar dari dalam rumah.

“Ibu selalu membela. Anak ini tidak akan dewasa jika terus kita manjakan!” bentak Bapak, lalu masuk ke rumah.

Dirham menangis sambil memeluk sang ibu. Beberapa tetangga melihat saat sang bapak mencambuk Dirham. Ada yang merasa kasihan, ada pula yang mencemooh. Mereka mencemooh karena anak-anak mereka pernah menangis akibat ulah Dirham.

Dirham dikenal nakal di kalangan anak-anak. Dia sering mengajak siapa pun berkelahi. Tak peduli lebih tua atau muda, semua dia habisi dengan tangan kosong. Badan besar membuat dia selalu berhasil memiting anak lain hingga nyaris pingsan.

Banyak yang mengira Dirham mengidap autisme. Ada pula yang bilang Dirham mengidap gangguan jiwa alias gila.

“Apalagi yang kaulakukan sampai Bapak marah? Ceritakan pada Kakak,” ujar Uci, kakaknya, di dalam kamar.

“Masa aku nggak salat saja, Bapak main sabet. Dasar Bapak gila!” Suara Dirham memenuhi ruangan.

“Kamu yang gila! Ninggalin salat!” sahut Bapak dari luar, lalu masuk ke kamar membawa tongkat rotan. Dirham bersembunyi di balik badan Uci. Bapak mendekat, mengamangkan tongkat rotan, hendak memukul.

Advertisements