Cerpen Teguh Affandi (Kedaulatan Rakyat, 22 Juli 2018)

Rumah Hantu ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Rumah Hantu ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SIANG itu, Junot tergopoh-gopoh masuk ke rumah. Sepatu dan tasnya masih dikenakan. Keringat Junot membuat kemeja putih ngeplek ke badan dan basah.

“Rumah Hantu kini ada isinya,” Junot tersengal-sengal bicara. “Rumah Hantu! Rumah Hantu yang memakan Greti.”

“Dari mana kamu tahu, Junot?”

“Teman-teman di TK yang bilang. Dan tadi pas Junot lewat, perempuan itu duduk di emper. Mirip penyihir.”

Rumah Hantu, rumah paling ujung di jalan, mungkin sudah dua tahunan tanpa penghuni. Listrik sudah lama diputus oleh PLN. Belukar di pekarangan depan, dan genting yang beberapa runtuh tak tersentuh. Selepas penghuninya pindah ke Sumatera dan entah kapan akan kembali karena tak ada kabar, rumah itu kosong. Dan dijuluki oleh Junot dan teman-temannya sebagai Rumah Hantu. Tentu karena perwujudan bentuknya layak disebut sebagai sarang hantu, tempat wewegombel kawin, atau tempat sundel bolong membuang bayi. Terlebih, ketika Greti ditemukan lemas-pingsan di pekarangan, setelah semalaman tidak pulang. Itulah mengapa Junot kerap menjuluki Rumah Hantu yang memakan Greti.

Baca juga: Jemini dan Tuan Busu Klarten – Cerpen Teguh Affandi (Media Indonesia, 07 Mei 2017) 

Petang itu, Rumah Hantu mulai tampak layak huni. Gerumbul rumput liar dibabat habis. Dan seorang perempuan, usianya kisaran tujuh puluh, dengan caping bambu membawa sabit di tangan kiri dan sapu lidi dilipatan ketiaknya tengah merapikan halaman. Saya sendiri kaget. Bukankah dia, Kamiri, ibu dari pemilik rumah. Mengapa baru sekarang dia memedulikan rumah anaknya?

“Penyihir tua!” Junot berbisik saban melewati Rumah Hantu yang kini dihuni Kamiri.

Dua hari kemudian rumah itu sudah rapi dan bahkan melebihi kerapian halaman rumah saya. Wajar saja, Kamiri tak berhenti sepanjang hari menyapu dan mencabuti rumput. Seolah gulma yang wajib dibasmi. Dan satu lagi yang saya amati, Kamiri begitu menyayangi kucing-kucing liar. Kucing yang berasal dari pasar tak jauh dari kompleks.

Semula Kamiri hanya memberi makan seekor kucing hitam. Dia memandikan di sumur kanan rumah. Kemudian memberinya kepala ikan asin, atau sesekali saya lihat Kamiri mencampur nasi dan cuwilan pindang mentah dalam mangkuk. Tiap kucing itu menjilati nasi dan daging terakhir, Kamiri tersenyum puas dan bahagia. Seperti seorang nenek yang menjamu cucu kesayangan dengan makanan kesukaan.

Advertisements