Cerpen Risda Nur Widia (Solo Pos, 22 Juli 2018)

Penjemput Kesedihan ilustrasi Solo Pos.jpg
Penjemput Kesedihan ilustrasi Solo Pos

Mereka datang seperti angin. Kami—warga kompleks perumahan Jati—tak pernah tahu asal-usul mereka. Mereka begitu saja ada dalam hidup kami secara turun-temurun. Mereka benar-benar layaknya derai angin di tengah gurun yang tiba dengan baju kumal, wajah melas, dan becak tua penuh karat. Mungkin mereka adalah orang asing yang mengembara dari satu kota ke kota lain; yang kemudian mampir di kompleks kami seraya sejenak mengumpulkan bantuan untuk nantinya melanjutkan perjalanan lagi. Aku tak tahu paham. Tapi yang jelas kedatangan mereka selalu memberi penanda khusus dalam hidup kami.

Para tukang becak itu selalu datang tujuh hari sebelum hari Lebaran. Mereka datang bisa dalam jumlah banyak atau seorang. Kehadiran mereka seakan ditumpahkan oleh langit. Setiap kali mereka datang—baik ketika aku masih kecil hingga telah dewasa dan menikah seperti sekarang—selalu mengetuk pintu dengan sopan. Lembut suara mereka. Dan para penduduk yang tinggal di perumalian Jati; dengan sigap, menyiapkan sesuatu yang dibutuhkan olah para tukang becak itu.

Begitulah. Kedatangan tukang becak yang meminta zakat itu seolah tanda bagi penduduk perumahan bahwa hari raya segera tiba. Bahkan di antara kami—para penduduk—seolah menyepakati perjanjian tak tertulis bahwa kehadiran para tukang becak peminta zakat itu adalah pelengkap hari Lebaran setiap tahunnya. Namun esensi kedatangan para tukang becak berangsur memburuk karena zaman mulai berubah. Orang-orang yang tak bertanggung jawab memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.

Baca juga: Hitler dan Neraka yang Dibuatnya – Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 31 Juli 2016) 

Pagi ini misalnya. Aku membaca berita di koran mengenai para gembel yang sengaja didatangkan oleh preman di kota. Para gembel itu kemudian dikoordinasi dengan cara profesional. Mereka seolah dipekerjakan untuk menipu kami. Para gembel itu didandani seburuk mungkin agar dapat menarik simpati. Baju mereka sengaja disobek-sobek. Mereka diberikan buntalan-buntalan besar berisi entah apa untuk menambah kesan lusuh. Pun tidak tertinggal becak tua penuh karat yang mereka dorong apabila menjalankan rencana. Karena hal itu, simpati kami kepada para tukang becak menjadi berkurang. Kami tidak lagi menyambut hangat kedatangan mereka. Beberapa tetangga bahkan sempat mengusirnya.

“Aku takut para tukang becak itu mengancam keamanan kompleks,” kata seorang tetangga yang pernah mengusir secara kasar seorang tukang becak.

Advertisements