Cerpen Ida Fitri (Media Indonesia, 22 Juli 2018)

Nyanyian-Nyanyian di Damrak ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Nyanyian-Nyanyian di Damrak ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

AKU belum pernah terpengaruh pada sebuah teks, seperti yang kurasakan terhadap teks Hikayat Prang Sabi yang ditulis Teungku Chik Pante Kulu di atas kapal, antara Jedah dan Penang, dalam perjalanannya pulang ke Aceh. Sebuah teks yang dikemudian hari mampu mencabut rasa takut dari hati orang-orang Aceh yang berperang melawan Belanda, perang yang berlangsung cukup lama dan membuat negara Kincir Angin itu nyaris bangkrut.

Karena teks bertulisan Arab Jawi itu juga, saat ini, aku berada di Dam, alun-alun kota Amsterdam, di mana Monumen Nasional menjulang setinggi 22 meter, Istana Raja Lois Napoleon yang berarsitektur klasikisme berdiri megah di sebelah barat, bersebelahan dengan gereja Nieuwe Kerk yang bergaya gotik. Burung merpati seperti berebut tempat dengan pejalan kaki yang ingin menikmati matahari pagi di akhir pekan, Jan van Riebeek yang baru tiba dengan sepedanya tersenyum ke arahku. Aku mengenal mahasiswa pascasarjana itu lima hari yang lalu di dekat perpustakaan Universitas Leiden. Aku berada di sana dalam rangka mencari naskah-naskah klasik milik negeriku, belasan ribu tulisan yang terdiri dari buku, kliping korang, peta, gambar, jurnal, disertasi, review, dan manuskrip. Salah satu di antaranya berjudul Hikayat Prang Sabi.

Tak ada kebetulan dalam hidup, begitu pun pertemuanku dengan Jan, ternyata lelaki berambut cokelat itu memiliki keterikatan emosional dengan daerah asalku, bapak dari neneknya di pihak ibu, saat ini terbaring mati di pekuburan Kerkhoff Peutjut Banda Aceh bersama dua ribu lebih serdadu Belanda lainnya. Setelah tsunami melanda Aceh tahun 2004 lalu, Jan pernah menginjakkan kakinya di Kutaraja untuk melihat kondisi kuburan lelaki yang sering diceritakan neneknya itu. Perlu kerja keras dan petunjuk dari penduduk setempat untuk menemukan makam bertulis Johannes Ludovicus Jakobus Hubertus Pel di antara kekacauan yang ditimbulkan gelombang laut setinggi dua batang kelapa itu.

“Sudah lama, Ridara?” tanya Jan seraya menghentikan sepedanya di depanku.

“Lumayan, sudah dari tiga puluh menit yang lalu. Kamu terlambat? Tapi yang kutahu orang Belanda itu selalu tepat waktu,” ujarku tanpa beranjak dari tempat dudukku di bawah bayang-bayang Monumen Nasional, monumen yang didedikasikan untuk korban perang dunia II, terlihat dari relief empat lelaki dirantai yang menujukkan penderitaan saat perang, patung perempuan menggendong bayi dan merpati terbang berada di atasnya, sementara patung yang melambangkan cendekiawan dan kaum buruh berada di sisi kanan dan kiri relief utama.

Advertisements