Cerpen Zainul Muttaqin (Lampung Post, 22 Juli 2018)

Laki-laki di Ketiak Istri ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Post
Laki-laki di Ketiak Istri ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

MAKSAN mestinya murka ketika istrinya setelah menghidangkan sepiring nasi putih, dengan ikan asin di atas meja mengatakan, “Laki-laki miskin macam kau mestinya sudah kutendang. Kalau bukan karena cinta, sudah kuusir kau. Kukatakan itu padamu, ingat baik-baik!” Istrinya melangkah ke dapur dan sejurus kemudian terdengar piring pecah karena dibanting hingga kedua bahu Maksan terangkat.

Keberanian Maksan selalu susut menghadapi perempuan yang dinikahinya tiga tahun silam. Ia cuma bisa menyimpan pertanyaan itu dalam dadanya, apa aku sudah sedemikian buruk di matamu? Dengan pelan-pelan ia mengunyah, coba menghabiskan sepiring nasi yang dihidangkan istrinya di pagi lembab. Simar akan buru-buru berkacak pinggang di samping Maksan kalau sampai ada sebutir nasi tertinggal di dalam piring.

Lantas Simar akan berkata lantang sampai sepenjuru gang mendengarnya, “Habiskan makanan di piringmu. Hidup kita sudah susah. Jangan membuang-buang makanan!” Sorot mata Simar meradang seperti binatang yang mengancam, siap melumat mangsa dalam sekali telan. Jika dipikir-pikir ada benarnya ucapan Simar itu. Tapi, suara keras sekaliguas kasar dari mulut Simar dirasa kurang baik diucap seorang istri kepada suami.

Maksan menarik napas, mengumpulkan nyali untuk bicara dengan istrinya yang tengah jongkok di depan mulut tungku. Maksan ikut jongkok dan mengajak istrinya bicara, ia menyahut dengan kalimat yang disengaja membelah dada Maksan. Api dari dalam tungku menjilat-jilat, sama persis dengan sorot mata Simar memandang wajah suaminya.

“Sudah untung kau tak kutendang dari rumah ini. Masih banyak omong kau!” Jantung Maksan seperti akan lepas dari tangkainya ketika itu juga. Ia bangkit, duduk di kursi lapuk karena usia. Maksan tidak serta-merta balas memaki istrinya. Lidahnya kelu tiba-tiba. Laki-laki paruh baya itu cuma bisa menelan ludahnya sendiri.

Dari kursi tempat ia duduk, Maksan memperhatikan istrinya memasukkan bumbu-bumbu makanan ke dalam panci, mengiris-iris bawang, dengan mulut senantiasa mengomel perihal laku suaminya. Maksan mencangkuli dirinya sendiri. Degup jantung Maksan berseiring dengan detak jam di atas dinding.

“Kamu itu masih berlindung di ketiakku!” Simar mencibir. Dahinya berkerut. Dipandanginya wajah Maksan yang tiba-tiba keruh. Laki-laki kurus itu tak kuasa melawan kalimat istrinya, ia cuma bisa mengatakan, “Tapi…” terdiam sesaat dan tak bisa melanjutkan kalimat berikutnya. Istrinya langsung menyambar dengan ucapan, “Tapi Apa?” mata Simar membidik tepat dua bola mata Maksan, suaminya. Ditekan suara Simar, lantang terdengar sampai gendang telinga Maksan serasa akan pecah mendengar suara istrinya membentur dinding rumah.

Advertisements