Cerpen Ken Hanggara (Tribun Jabar, 22 Juli 2018)

Kota Mati dan Pembunuhnya ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Kota Mati dan Pembunuhnya ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

SEORANG pemuda berjalan, sempoyongan menuju suatu kota mati. Tidak ada apa pun yang dia bawa kecuali tas plistik berisi beberapa lembar baju dan satu buah buku. Di kejauhan, ada titik kecil bergerak-gerak dan tertangkap oleh bola mata keruh si pemuda yang agaknya belum makan sejak dua hari lalu. Melihat itu, semangatnya berkobar dan keputusan pun diambil: pergi ke sana dan mencari pertolongan.

Tentu saja menuju titik kecil yang dipisahkan jarak beberapa ratus meter tidaklah semudah yang dulu pemuda itu lakukan ketika situasi masih normal. Perang merenggut banyak hal, termasuk situasi sesederhana berjalan kaki menuju rumah makan cepat saji. Dulu rumah makan tempat biasa dia pergi mencari nafkah masih lebih jauh dari jarak yang kini harus ditempuhnya demi bantuan.

Berjuang sedemikian rupa, dengan sisa tenaga yang ada, si pemuda tampak kecewa ketika tiba di tempat tujuannya, yang ternyata hanyalah sebukit sampah. Titik kecil tadi berasal dari sepotong cermin yang dimain-mainkan oleh bocah kurus kering yang sama tidak berdayanya dengan dirinya. Bocah itu berbaring begitu saja di atas berhelai-helai kardus bekas wadah mi instan, susu formula, dan segala macam benda rumah tangga yang pastinya telah bertahun-tahun tidak lagi diproduksi.

Baca juga: Roh-roh di Tangan Mariana – Cerpen Ken Hanggara (Bali Post, 08 Oktober 2017)

Kalau tidak salah ingat, dua belas tahun lalu terakhir kali pemuda itu pergi bekerja ke salah satu rumah makan cepat saji, yang dalam sehari-hari dia hanya bertemu dengan para pelanggan dan mesin kasir dan tak ada seorang pun yang peduli padanya. Bahkan tidak bagi pengunjung yang terlihat paling kesepian dan merana seperti dirinya.

Tentu si pemuda masih ingat bagaimana kemudian dia hengkang dari tempat situ; bagaimana seseorang membujuknya ikut berjuang demi tujuan yang terlihat utopis dan bahkan sinting; demi sebuah cita-cita yang dia sendiri bahkan tak terlalu paham betapa cita-cita macam itu dimulai dari kepala siapa. Yang dia tahu adalah ucapan orang yang membujuknya, yang berpenampilan begitu meyakinkan, tentang masa depan yang akan gemilang jika tujuan mereka tercapai.

“Hidupmu tidak akan semenyedihkan ini. Kamu akan dicintai banyak wanita!”

Begitulah yang kerap dia dengar.

Advertisements