Cerpen Ramadira (Jawa Pos, 22 Juli 2018)

Hilang Ingatan ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Hilang Ingatan ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

Saya mendadak linglung gara-gara rangkaian kejadian yang menimpa saya. Apa yang sebenarnya terjadi? Saya menjadi ragu pada waktu dan ingatan. Saya perhatikan, bibir mayat gadis dalam foto di koran itu, menyunggingkan senyuman.

***

MALAM itu, malam pertemuan kami. Hujan yang tiba-tiba tumpah memaksa saya menepi di sebuah halte. Saya kenakan jas hujan yang saya ambil dari bawah jok motor. Saya sudah siap-siap meluncur kembali, namun suara tangisan sayup seseorang menghentikan rencana saya.

Saya perhatikan, tangisan itu milik sesosok perempuan berambut panjang yang duduk dalam gelap. Saya tak jadi pergi. Saya justru menghampiri dia yang rupa-rupanya sudah berada di halte ini sebelum saya. Tangisnya makin menjadi kala saya mendekat dan bertanya mengapa dia menangis. Ada jeda sebentar untuk kemudian ia memberi jawaban: tak tahu jalan pulang.

Apa yang menimpa gadis ini membuat saya terus berpikir lantas mengajukan banyak pertanyaan agar mendapat kepastian apa yang sesungguhnya terjadi. Semua pertanyaan saya hanya mendapat sebuah penegasan bahwa dia memang lupa segalanya. Bahkan keberadaannya di halte itu pun tak ia ketahui pasti bagaimana bermula. Di sela-sela percakapan kami, saya sempatkan memperhatikan wajahnya. Dari jarak sedemikian dekatnya, saya berani memastikan bahwa gadis ini sungguh rupawan. Ia memiliki paras cantik milik perempuan-perempuan Jepang. Meski memiliki kecantikan penuh, ia justru tak lagi punya ingatan, tak membawa serta masa lalunya. Tak juga saya temukan tas atau dompet yang biasanya memuat beberapa identitas diri pemiliknya. Demikianlah kini si gadis hilang ingatan masih saja menangis.

Baca juga: Verkooper Kompas – Cerpen Rama Dira J (Jawa Pos, 21 Maret 2010) 

Gadis yang menangis ini mengenakan atasan kaus lengan panjang marun berleher “v” dan bawahan jins skinny donker yang seluruhnya basah. Sambil berupaya menenangkan, saya segera mengulurkan jaket saya untuk ia kenakan agar dapat mengurangi dingin yang sudah menghantam tubuhnya yang kuyup. Ia segera mengenakan jaket saya dan menghentikan tangisnya. Upaya saya menenangkannya cukup berhasil.

Advertisements