Cerpen Ajeng Maharani (Haluan, 22 Juli 2018)

Bagaimana Bandit Mulai Mencintai... ilustrasi Haluan
Bagaimana Bandit Mulai Mencintai Lemari Pakaian Itu dan Kisah-Kisah Cinta Mengerikan Lainnya ilustrasi Haluan

MULA-MULA, yang kulihat di pagi buta itu adalah kaki-kaki Bandit yang bergerak-gerak gelisah. Ia hilir-mudik di kamar tidur. Sesekali terhenti, lalu berjalan kembali. Kesenyapan yang semalam menyelimutiku seketika pecah. Aku terbangun dan sedikit menguap. Dengan mata yang masih mengantuk aku mulai menekuni kaki-kaki Bandit.

Untuk beberapa saat, setelah hilir-mudik yang kesekian, lelaki tiga puluh enam tahun itu akhirnya membeku di depan lemari pakaian. Lemari itu terbuat dari kayu—entah jati atau mahoni, aku tidak begitu paham—yang dicat hitam legam. Ada garis putih yang mendominasi pinggirannya, dan sebuah cermin besar di bagian pintu sebelah kanan. Lemari itu baru saja dibelinya dua bulan yang lalu, menggantikan lemari cokelat tua yang sepertinya sebuah harta turun temurun. Hari itu, ketika lemari hitam legam datang, Bandit memindahkan semuanya seorang diri. Aku melihat ia begitu bahagia. Selayaknya nabi yang baru mendapatkan mukjizat Tuhan dan membuktikan pada kaum-kaum tersesat bahwa benar dialah sang utusan.

Aku tiba-tiba mendengar desahan panjang yang sangat berat dan keras. Sebagai seorang Bandit yang selama ini aku bersamai, ini adalah hal yang tidak pernah kujumpai. Ia bukan lelaki yang kerap mengeluh. Ia bahkan sering mencandai Ratmi, istrinya yang bertubuh pendek dan berpaha besar itu. Mereka berdua akan terpingkal-pingkal setiap malam di atas ranjang dan menimbulkan gempa kecil di dalam kamar. Lalu tawa-tawa itu berganti menjelma suara-suara kengerian yang paling tidak aku sukai: sebuah persenggamaan manusia.

Baca juga: Seorang Lelaki dalam Hikayat Kami – Cerpen Ajeng Maharani (Padang Ekspres, 01 Juli 2018)

Bandit kembali melangkah. Kali ini ia mendekati meja rias Ratmi, lalu berbalik arah dan mengempaskan bokong tebalnya begitu saja di atas ranjang. Bunyi pantulan pegas menggema sesaat, lalu kudengar hentakan napas yang tidak sedang dalam kondisi sabar menunggu sesuatu. “Halo! Halo! Hei, Warto. Warto!” seru Bandit kemudian. Suaranya terdengar cemas dan marah. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ia sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Kapan kau akan datang, hah? Aku sudah hampir gila ini!”

Lelaki berambut keriting yang baunya apak dan dipenuhi debu-debu lembab yang mengendap di kulit kepala itu kembali diam. Sepertinya ia sedang mendengarkan jawaban dari lawan bicaranya di seberang sana.

Advertisements